Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH


Muhammad Rizqon' Site
Kumpulan Artikel Kisah dan Hikmah di Oase Iman Eramuslim

HomeCatatan Perjalanan: Menjemput Mutiara dari Dasar KehidupanSep 17, 2008
Fyi. Muhammad Rizqon' s Official Site hanya ada di muhammadrizqon.multiply.com. Hanya disini....

Blog EntryMar 29, '12 9:11 PM
for everyone

Bambu adalah sumber kehidupannya. Hampir setiap hari, Bu Saalih membeli bambu yang dipotong-potong dalam bentuk tabung sepanjang satu meter. Tabung-tabung bambu berpanjang satu meter itu dia bawa pulang, kemudian ia belah-belah menjadi beberapa potongan kecil. Potongan-potongan kecil itu dia belah tipis-tipis membentuk lembar-lembar mirip belahan daun kelapa muda yang biasa dianyam untuk membuat ketupat. Serupa dengan itu, bilahan-bilahan tipis bambu itu dia anyam dan dia rangkai membentuk wadah untuk tempat ikan-ikan basah berukuran kecil. Dalam satu wadah kecil kira-kira bisa menampung 4 hingga 6 ekor ikan. Wadah itu, orang mengenalnya dengan ‘cuek’. Sehingga ikan yang dijual dengan wadah itu pun dikenal dengan ‘ikan cuek’.

Menurut kabar yang saya dengar, ikan-ikan itu berasal dari tempat pelelangan ikan di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa. Beberapa juragan membeli ikan-ikan tersebut. Ikan-ikan itu kemudian diproses dengan cara merebusnya setengah matang dalam sebuah kuali besar. Setelah direbus, lalu didinginkan, kemudian ditempatkan dalam wadah-wadah bambu bernama cuek. Cuek-cuek itu kemudian disusun bertingkat, diikat, lalu dijual ke pasar dengan menggunakan mobil bak terbuka atau becak.

Subhanallah. Berkat Ikan-ikan itu, roda kehidupan dan ekonomi berputar. Sejak dari penangkapan hingga penjualannya, usaha tersebut telah menghidupkan banyak orang. Dari nelayan, tengkulak, juragan, pemilik transportasi, pemasak, pembuat cueknya hingga penjual-penjualnya di berbagai pasar tradisional. Bu Saalih kebagian rezeki dari memproduksi cuek-cuek tersebut.

***

Suatu ketika isteri saya memergoki Bu Saalih sedang sibuk menganyam bilahan-bilahan bambu di depan rumahnya.

“Assalamu’alaikum, lagi sibuk Wak?” Sapa isteri dengan menyebutnya Wak (Bibi).
“Wa’alaikum Salam, biasa nich lagi iseng!”
“Iseng apa kerja, Wak!” Isteri saya mencoba meluruskan ucapannya.
“Kerja, Mi. Maklum bisanya gini-gini.”
“Ya bukan gini-gini Wak! Kerja mah kerja. Alhamdulillah masih bisa bikin cuek dan masih ada yang beli.”
“he..he..Iya Mi..” Seringainya membenarkan apa yang dikatakan isteri.

***

Bu Saalih tahu, bahwa dia itu sedang bekerja dengan anyaman-anyaman bambunya dan bukannya sekedar iseng. Ucapannya itu, barangkali sekedar merendahkan diri karena hasil dari pekerjaan itu tidak seberapa menurut dia. Namun demikian, saya melihat seharusnya dia tidak perlu rendah diri dengan pekerjaannya itu dan menyebutnya sebagai pekerjaan iseng (pengisi waktu luang).

Memang jika dinilai dengan uang, hasil dari penjualan cuek yang dibikinnya setiap hati itu nilainya relatif sangat kecil. Mungkin tidak sebanding dengan jerih payah mengayamnya yang menghabiskan waktu seharian. Tetapi kita tidak pernah tahu berapa nilai keberkahan yang terkandung didalamnya. Ya, bisa jadi nilai keberkahannya melebihi dari penghasilan yang besar menurut kaca mata orang.

Kehidupan tidak bisa diukur dari seberapa besar harta yang diperoleh dan apa yang berhasil dimilikinya. Variabel kebahagian bukanlah terletak pada apa yang ada digenggaman tetapi apa yang terkandung di dalam hati. Betapa banyak orang yang diberi kelapangan harta, tetapi tidak diberi kelapangan hati. Akibatnya, harta yang dimilinya pun tidak memiliki manfaat yang maksimal bagi diri dan lingkungannya. Sebaliknya, betapa sedikit orang yang diberi kelapangan hati dalam kondisi diberi harta yang terbatas. Akibatnya, keterbatasan harta menjadikan mereka terjerembab dalam kekufuran.

Idealnya, dalam kondisi apapun seorang beriman selalu berhati lapang. Lapang untuk bersyukur dan lapang untuk bersabar. Sehingga setiap apa yang dikerjakannya selalu diorientasikan untuk kebaikan dan beribadah kepada-Nya.

Sesungguhnya bilahan bambu yang harus kita anyam sangatlah banyak. Dan itu bukanlah pekerjaan iseng yang menyia-nyiakan waktu saja. Kita perlu menganyam bilahan-bilahan syukur untuk mewujudkan misi kita menjadi yang terbaik, karena sesungguhnya Allah menciptakan kehidupan dan kematian untuk melihat siapa yang paling baik amalnya. Kita perlu menganyam bilahan-bilahan sabar untuk memujudkan misi kita menjadi yang terbaik juga, karena sesungguhnya derajat kebaikan itu harus dicapai dengan kesabaran.

Fragmen perbincangan dengan Bu Saalih, memberikan inspirasi bahwa seharusnya tidak ada pekerjaan yang bernilai ‘iseng’ dalam kehidupan. Semuanya harus diorientasikan untuk kebaikan, ibadah, dan persembahan terbaik untuk Rabb-nya. Bagi Allah, tidak ada pekerjaan yang kecil jika semua disandarkan kepadanya. Dan balasan Allah tergantung dari seberapa besar orang menyandarkan diri kepada-Nya, bukan ukuran besar kecilnya di mata manusia.

Wallahua’lam bishshawaab.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/menganyam-kehidupan.htm


Blog EntryMar 26, '12 11:58 AM
for everyone
Sore itu, Abdullah membawa selembar kertas berisi sebuah gambar hasil goresan anak tetangga yang pandai dalam menggambar di sekolahnya. Gambar itu masih berupa coretan pencil (sket gambar), namun tampaknya Abdullah sangat menyukai gambar itu. Boleh jadi karena obyek yang digambar adalah tokoh kartun kesukaannya, dan tentu menjadi kesukaan banyak teman-temannya.

Sket gambar itu ia bawa ke rumah. Ia meminta spidol kepada ayahnya. Ia ingin sket gambar berupa goresan pencil itu, diperjelas dengan tinta spidol hitam. Ayahnya mengetahui bahwa kegiatan itu adalah bagian dari kegiatan melatih motorik halus sang anak. Maka ia mencarikan spidol hitam kemudian memberikannya kepada Abdullah. Begitu memegang spidol (permanent marker), Abdullah tampak canggung membubuhkan goresan. Ada rasa khawatir jika goresannya itu melenceng dari tinta pencilnya dan berakibat gambarnya menjadi tidak bagus. Karena ada rasa khawatir itu, ayahnya pun membantunya pelan-pelan sehingga goresan pencil tertutupi semuanya oleh tinta spidol. Hasilnya, tokohnya kini menjadi lebih nyata dan jelas.

Abdullah tampak senang dengan lukisannya itu. Kemudian ia meminta ayahnya untuk memfotokopi malam itu juga, padahal waktu sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam. Wajarlah jika ada rasa malas menghinggapi ayahnya untuk memenuhi permintaan anaknya itu. Kepenatan yang mendera dirinya sehabis melaksanakan aktivitas sepanjang pagi hingga menjelang sore, kemudian dilanjut dengan aktivitas kerumahtanggaan hingga menjelang malam, belum hilang dari dirinya. Di samping itu, Sang ayah merasa pesimis. Jam segitu tempat fotokopi di sekitar rumah pastilah sudah pada tutup.

Namun Abdullah tetap merengek agar ayahnya tetap mengantarkannya ke tempat fotokopi malam itu juga karena duplikasi dari gambar itu akan ia bawa ke sekolahan esok harinya. Jika ayahnya memfotokopinya besok hari, berarti gambar itu pasti akan difotokopi saat ia sudah berangkat sekolah sehingga dia tidak bisa membawa gambar itu.

Ayahnya bertanya, “Kenapa sih nak harus fotokopi malam ini?”

Abdullah menjawab, “Abdullah mau membawanya ke sekolah besok.”

Ayahnya menyahut, “Emang tidak bisa hari lain?”

Abdullah tampak diam sejenak, seakan ingin menyembunyikan maksud dia yang sebenarnya. Ia khawatir jika maksudnya itu tidak berkenan di hati ayahnya.

Kemudian tanpa diduga sebelumnya, Abdullah memberikan jawaban yang cukup mengejutkan orang tuanya, mengejutkan dalam arti membahagiakan (surprise).

Ia berkata, “Abdullah mau bawa gambar itu buat dijual di sekolahan.”

Ayahnya tersenyum mendengar jawaban itu. Sekali-kali ia mengiringinya dengan tertawa kecil. Bukan tertawa mengecilkan tetapi tertawa karena ide kreatifnya itu di luar dugaan dia sebelumnya dan ia sangat mengagumi ide kreatif anaknya itu.

Wajah ceria Sang ayah memancar. Sang ayah sungguh bahagia mendengar jawabannya itu, sebab jawaban itu mencerminkan bahwa logika berfikirnya berjalan. Dan yang lebih penting, ia menyimpan potensi kebaikan yang tidak kecil, bahkan sangat menentukan kelangsungan hidupnya kelak saat ia dewasa. Sangat sedikit anak yang memiliki logika berpikir seperti Abdullah yang masih kelas satu SD itu. Logika berfikirnya itu sejatinya menunjukkan bibit kemandirian di dalam dirinya, yang jika diarahkan dengan baik, akan benar-benar membentuk jiwa wirausaha dan kemandirian di dalam dirinya kelak jika ia dewasa.

Menyadari akan pentingnya menumbuhkan sifat kemandirian seorang anak, ditambah kesadaran akan adanya sepotong benih kemandirian di dalam diri anaknya itu, sang ayah segera bangkit dari kemalasannya kemudian segera beranjak pergi mengantarkan anaknya itu mencari tempat fotokopi terdekat. Sang ayah tidak ingin benih kemandirian itu pupus hanya karena tidak ada dukungan dari orang-orang yang bisa memperhatikannya.

Alhamdulillah, Sang ayah (bersama sang anak) masih menemukan warung fotokopi yang buka pada malam itu. Seakan menjadi sebuah isyarat bahwa benih kemandirian itu tidak boleh pupus. Mereka memfotokopi gambar sebanyak 10 lembar kemudian membawanya pulang. Abdullah tampak bahagia dan merasa puas. Ada semangat terpancar dalam dirinya menyambut hari esok. Ia langsung menyimpan lembaran fotokopi gambar itu ke dalam tas sekolahnya. Boleh jadi, pikirannya membayang pada kejadian esok pagi di mana teman-temannya akan menyambut antusias gambar tokohnya itu.

***

Abdullah adalah tipe anak yang memiliki perhatian besar dalam bisnis. Pernah suatu ketika ia berujar bahwa ia ingin mencari uang yang banyak agar ibunya tidak usah repot pergi ke sana ke mari mencari uang tambahan. Ketika ditanya, bagaimana caranya agar ia mendapatkan uang itu, ia menjawab bahwa ia akan membeli seekor kambing laki-laki dan seekor kambing betina. Dari dua pasangan ekor kambing itu akan dihasilkan anak yang banyak, kemudian anak-anaknya itu akan bisa melahirkan anak lagi, demikian seterusnya sehinga jumlah kambingnya jadi berlipat-lipat. Kambing itu akan dijual ke orang sehingga mendapatkan uang. Sungguh cerdas pemikiran anak itu pada usia yang masih dini.

Pernah juga ia membuat minuman pop ice atau sirup atau sekedar teh manis. Kemudian ia tuang minuman itu dalam plastik kecil-kecil dan ditaruh di kulkas. Jadilah ia es mamboo. Ia tawarkan pada teman-teman mainnya dengan harga Rp 500 untuk dua buah. Sesuatu yang pernah membahagiakannya adalah, dari jualan es mamboo itu ia mendapatkan uang sebesar Rp 12.000. Jumlah uang sebesar itu di mata anak kecil masyarakat biasa bukanlah jumlah yang kecil, terlebih di tengah kondisi sulitnya mencari uang seperti sekarang ini. Dan yang patut dicontoh, uang itu adalah murni dari hasil ide kreatifnya. Subhanallah.

Pernah pula ia membeli tepung khusus untuk kue di swalayan terdekat bersama temannya. Di samping itu, ia juga membeli mesis dan blue band. Di rumah, ia bersama temannya membuat kue laba-laba atau donat. Alhamdulillah, semua teman-teman ikut menikmatinya. Orang tua dan orang-orang rumah pun dipersilahkan mencicipi hasilnya. Meski kadang tidak begitu pas rasanya, tetapi penghargaan dari orang tua dan orang-orang sekitar cukup membahagiakan dan menimbulkan rasa percaya dirinya.

Yang lucu, ia bersama teman-temannya sudah berani membuat tulisan berjudul “Café” di atas kertas warna yang ditempel pada kardus, kemudian ditutup dengan lapisan plastik. Kertas bertulis daftar harga makanan itu, ditempel di pagar besi depan rumah.

***

Ada pelajaran berharga dari kisah Abdullah yang bernama lengkap Abdullah Nur Firdaus itu. Selaku orang tua, kita sering kali menjumpai adanya benih kewirausahaan dan kemandirian dalam diri seorang anak. Namun karena kesibukan dan banyaknya masalah yang harus diperhatikan, perhatian kita kepada potensi anak kita itu menjadi terabaikan. Selayaknya, benih kewirausahaan dan kemandirian itu dipupuk dan ditumbuhkan agar kelak ia memiliki mental entepreneurship dan berjiwa mandiri. Dan jika kita memperhatikan dalam hal ini, sebenarnya kita telah menjatuhkan pilihan yang tepat, yaitu menjadikan anak sebagai investasi kebaikan bagi orang tua. Bukankah sangat dimungkinkan dengan benih itu akan diarahkan pada sifat-sifat keterpujian?

Setiap anak memiliki potensi untuk itu. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai mengarahkan sehingga darinya tumbuh sifat-sifat kebaikan, seperti keberanian mengambil resiko, kecerdasan dalam membaca lingkungan, jujur, adil, amanah, dan memiliki jiwa pemimpin.

Saya sendiri selaku orang tua, kadang merasa belum mampu memperhatikan anak secara optimal. Dan saya mohon kekuatan kepada Allah, agar bisa memperhatikan anak-anak saya dan mengarahkan mereka menjadi anak yang sholeh dan dan memiliki kekuatan. Amin.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/sepotong-benih-kemandirian.htm


Blog EntryNov 17, '11 9:41 PM
for everyone

Selasa, 15/11/2011 13:54 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Tulisan

Beberapa hari terakhir ini, guyuran air hujan mewarnai hari-hari di daerah penyangga Ibu Kota. Dahsyatnya banjir yang melanda Negeri Gajah Putih Thailand, menjadi peringatan bagi warga yang tinggal di kawasan penyangga Ibu Kota ini, termasuk Bekasi. Berita banjir besar di Pondok Labu makin menegaskan kepada warga untuk makin waspada menghadapi datangnya musim hujan yang biasanya berkomplikasi pada masalah banjir, kemacetan parah, timbulnya wabah penyakit, yang pada akhirnya bisa menjalar pada masalah yang lebih serius yaitu tersumbatnya perekonomian, rawannya masalah sosial dan ketegangan politik di pusat pemerintahan. Yah, mau tidak mau dan suka tidak suka, potensi resiko tersebut harus dihadapi dengan lapang dada. Inilah wajah negeri yang buruk sistem drainasenya, semrawut pengelolaan sampahnya, amburadul tata ruangnya, dan egosentris pola hidup sebagian besar warganya.

Suatu hal yang menggembirakan dan membangkitkan optimisme, meski suasana mendung meliputi sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, tidaklah menjadikan beberapa orang berpantang surut menyongsong satu hari yang sangat monumental itu yaitu Idul Adha, yang selalu mengingatkan kita akan keteladanan Nabi Ibrahim as dan keluarganya.

Sebuah lembaga pendidikan tidak ternama bernama PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) SAKURA, Meski terkesan diam-diam, ternyata pada hari H, mampu membuat masyarakat sekitar cukup takjub dan heboh. Dua ekor sapi dan 22 ekor kambing/domba digiring dari kandang (berjarak sekitar 50 meter dari sekolah) menuju tempat berlangsungnya acara pemotongan hewan qurban di sebuah halaman kontrakan yang cukup lapang dekat sekolahan.

Kemeriahan dan kehebohan terjadi ketika hewan-hewan udhiyah di konvoi dari kandang. Masyarakat kaget karena semalaman menjelang Idul Adha, tidak terparkir satu hewan ternak pun di halaman PAUD SAKURA.

Sebagian warga berbisik, “Hey...PAUD Sakura memotong 2 ekor sapi....hebat....hebat...” Yah, PAUD Sakura yang dibentuk oleh personil Yayasan Cahaya Kebajikan memang pada awalnya tidak dilirik oleh warga. Gedungnya menempati rumah tua dari kader baru yang mengikhlaskan ruangannya dipakai buat sekolahan. Tidak luas namun masih layak. Bea masuknya cukup murah. Para pengajarnya pun adalah dari ibu-ibu sekitar yang terkesan tidak berpengalaman. Namun seiring dengan berjalannya waktu, warga menyadari bahwa ada Yayasan besar yang menaunginya. Besarnya Yayasan bukan diukur dari kekayaan yang dimiliki namun diukur dari komitmennya yang teramat besar mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengoptimalkan masa lima tahun pertama dalam kehidupan seorang anak. (the golden years).

Ketakjuban warga kian besar ketika mereka mengetahui bahwa acara pemotongan hingga pembagian hanya berlangsung hanya beberapa jam saja. Dari yang awalnya sepi, kemudian timbul suasana meriah memenuhi warga, hingga acara selesai tanpa meninggalkan bekas kotoran dan bau hewan qurban. Semua panitia bekerja bantu-membantu hingga tuntas semua urusan.

Itulah kerja yang dilakukan secara berjamaah, terkesan rapi dan profesional. Penilaian positif pun mengemuka dari mulut para warga,

“Wuih...cepat sekali ya kerjanya...rapi lagi...bener-bener profesional.”

Tanpa bermaksud menyanjung, Ibu Siregar selaku pengurus yayasan dan pemilik bisnis Hasanah Qurban, memiliki andil yang cukup besar. Beliau bergerilya menawarkan karib kerabat dan teman untuk berqurban demi memeriahkan Idul Adha 1432 H ini. Bukan mengejar keuntungan, tetapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk bersedia berqurban. Beliau memfasilitasi dan memudahkan orang berqurban dan berbagi kepedulian dengan warga dhuafa sekitar. Bukan keuntungan “uang” yang utamanya ia kejar tapi keuntungan “kebajikan” selain kebajikan yang beliau dapat dari bulu hewan udhiyah yang beliau kontribusikan juga.

Beliau bukan pemilik peternakan, namun pengalamannya yang luas menjadikannya memiliki relasi yang sangat baik dengan penyedia hewan qurban. Sehingga harga hewan ternak bisa disesuaikan dengan dompet para pequrban.

Selain bekerja sama dengan penyedia ternak El Fikri sebagaimana tahun-tahun lalu, tahun ini beliau menjalin kerjasama dengan Peternakan Sakado (Sapi Kambing Domba) di Sumedang yang membuka lapaknya di Jakarta. Alhamdulillah visi pengelola peternakan Sakado sejalan dengan visi Ibu Siregar. Visinya menggagas peternakan Sakado didasari nilai kejamaahan dimana dia bermimpi bahwa kandangnya kelak tidak hanya berisi kegiatan peternakan saja, namun juga menjadi pusat pembinaan (istilahnya adalah kandang tarbiyah) dan mampu men-supply daging ke jamaah dengan kualitas baik (thoyiban) dengan harga terjangkau khususnya bagi mereka yang ingin menunaikan qurban dan berbagi kepedulian dengan dhuafa.

Pepatah mengatakan: Siapa yang bersungguh-sungguh pasti dapat. Ini sejalan dengan firman Allah SWTyang memerintahkan kita untuk berlomba dalam kebaikan (QS 2:148) dan menjadikan hidup dan mati sebagai ujian untuk mengejar yang terbaik (QS 67:2). Jika orang bersungguh-sungguh mengejar harta yang mungkin manfaatnya terbatas, kita pun bisa bersungguh-sungguh mengejar “kebajikan” seperti layaknya mereka. Hanya saja yang menjadi ironi, orang tidak mau bersungguh-sungguh mengejar kebajikan karena sifatnya yang abstrak. Padahal dengan bashirah yang kita miliki kita bisa mengkonkritkan sifat kebajikan itu seperti panjang umur, sehat, ketenangan jiwa, keharmonisan rumah tangga, anak yang sholeh, manfaat yang banyak, dan lain-lain. Coba kita konversikan nilai-nilai itu dengan uang. Sungguh tidak ternilai bukan?

Inilah salah satu sifat amal sholeh yang dilupakan orang. Yaitu selain ia harus didasari oleh niat ikhlas, dikerjakan dengan mencontoh Rasul SAW, dan ditujukan untuk Allah SWT semata, ia harus disegerakan, dikejar atau berlomba-lomba didalam meraihnya.

Semoga Allah SWTmemberi petunjuk kepada kita untuk senantiasa berlomba mengejar kebajikan dan menjadikan kebajikan sebagai obsesi kehidupan sebagaimana dulu terjadi pada masyarakat Madinah.

Waallahua'lam.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/muhammad-rizqon-mengejar-profit-kebajikan.htm


Blog EntryNov 8, '11 9:03 PM
for everyone

Selasa, 08/11/2011 13:59 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Tulisan

Musim haji yang lalu, sahabat saya Imam, mendapat anugerah yang tidak terduga sebelumnya, yaitu memenuhi panggilan Allah melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci. Anugerah ini muncul tidak terlepas dari kedekatan dia pada seorang tokoh pemuda yang sekarang menjadi atasan dan pimpinan kantornya, sebut saja namanya Adhi. Sebelumnya Imam bertugas di kantor lain. Kepindahan dia ke kantor instansi pemerintah baru, karena promosi jabatan dan restrukturisasi pada instansi pemerintah.

Ketika itu dalam forum seminar, di mana yang menjadi pembicara adalah Adhi dan dirinya, dia di tanya,
“Pak Imam, sudah berangkat haji belum?”Pertanyaan itu bukan mengada-ada, atau iseng, atau basa-basi. Adhi melihat kapasitas keilmuan Imam sudah sangat memadai. Dari pembicaraan, sikap dan perilaku, dari ibadah dari dia lakukan, dan dari perhatiannya pada masalah-masalah yang selalu dikaitkan dengan sudut pandang Islam. Ditanya seperti itu, dia kikuk, tetapi terus terang menjawab,
“Belum, Pak. ”
“Mau naik haji?”
“Kalau mau sih siapa yang ndak mau ke tanah suci, Pak!”
“Ya sudah, Pak Imam tahun ini saya tunjuk berangkat naik haji. ” Imam sahabat saya, tertegun dan seolah tidak percaya. Di tengah ketergunannya itu dia hanya bisa berucap Alhamdulillah berulang kali dan berterima kasih kepada Adhi, pimpinan kantornya, atas kepercayaan diberikan kepadanya.

Dalam hati Imam bergumam, apakah ini jawaban dari doa-doa yang saya panjatkan selama ini? Sungguh Allah maha pengabul segala doa. Pergi ke Baitullah telah menjadi keinginan dan cita-citanya sejak lama. Namun dia pendam kuat-kuat dalam lubuk hatinya. Dia sadar, kondisi ekonominya kurang memungkinkan. Berapalah tabungan yang bisa terkumpul dari gaji seorang pengabdi negara. Alih-alih menabung, untuk memenuhi keperluan anak-anak sekolah dan rumah tangga, dia harus bijak-bijak mengatur keuangan. Namun Dia juga yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, memuliakan orang yang Dia kehendaki, dan menghinakan orang yang Dia kehendaki. Maka rasa rindu untuk ziarah ke Baitullah itu, dia tumpahkan dalam bait-bait doa selepas sholat fardhlu dan qiyamullail. Doa tersebut telah menjadi doa rutin, yang senantiasa terpanjatkan baik secara sadar maupun tidak sadar.

Secara keilmuan, Imam tidak asing dengan hal-hal yang berkait dengan manasik haji. Dia dulu pernah belajar di pesantren di daerah pinggiran Semarang, sebelum akhirnya melanjutkan kuliah di Universitas Diponegoro. Maka persiapan haji yang dia lakukan relatif 'aman-aman saja'.

Singkat cerita, dia berhasil menunaikan ibadah haji dan umrah dengan baik dan memuaskan. Beberapa hari sebelum pulang ke tanah suci, di berziarah ke Masjid Nabawi di Madinah. Berkunjung ke Masjid Nabawi dan sholat di dalamnya adalah hal-hal yang disunnahkan sebelum atau setelah pelaksanaan ibadah haji dan umrah, karena shalat di dalamnya lebih baik seribu kali dari shalat di tempat lain kecuali di Masjidil Haram.
Yang menjadi sasaran utama peziarah Masjid Nabawi adalah sebuah ruang yang diberi nama 'Raudhah'. Keutamaan Raudhah ini disampaikan langsung oleh Rasulullah, ''Di antara rumahku dan mimbarku adalah taman (Raudhah) dari taman-taman surga. Dan mimbarku di atas kolam. " (Shahih Bukhari). Berdoa di Raudhah adalah mustajab. Keyakinan inilah yang membuat jamaah haji dari berbagai negara yang berada di Madinah, berbondong-bondong menuju Masjid Nabawi sekaligus untuk dapat memanjatkan doa di Raudhah. Tapi Taman Surga yang terbatas itu hampir tak sebanding dengan ribuan jamaah yang ingin sekadar meletakkan dahi bersujud dan memanjatkan doa serta salam bagi Baginda yang Mulia. Perjuangan menuju Raudhah cukup berat, dibutuhkan kondisi prima, daya juang tinggi, stamina memadai, dan tak kalah penting adalah kesabaran. Sebab di tengah 'jubelan' dan desakan manusia, tidak boleh menyakiti orang. Baik dengan kata-kata kasar atau 'bahasa tubuh' yang menyakitkan.

Saat tiba di Masjid Nabawi, selepas menuaikan haji dan umrah, Imam seolah berada di dalam dua pusaran yang bersinggungan. Satu sisi dia ingin mencapai Raudhah dan berdoa di sana. Satu sisi lain, dia mengetahui bahwa berdesakan dan berebutan yang berakibat menyakiti orang, hukumnya haram. Dia, dan teman-teman satu khafilah, ragu dan merasa kecut. Rasanya berat untuk berdesak-desakan dan memaksakan diri ke sana. Teman satu khafilah, bernama Ummu Umair, bercakap dengan dia,
“ Pak Imam, tolong doakan sahabat saya ini. Saya rasanya tidak sanggup ke sana. ” Kata Ummu Umair, sambil menyerahkan secarik kertas bertuliskan sebuah nama.
“Oh ya. Ini Bu Aisyah siapa?” dia bertanya tentang sebuah nama yang tercantum pada secarik kertas. “Apa Bu Aisyahnya Pak Hariz?” Dia menyebut salah satu nama sahabatnya.
“Waduh, saya nggak tahu. Pokoknya ini sahabat dekat saya. Minta tolong didoakan”.
Aneh dalam pikiran Imam. Ummu Umair yang mengaku sahabat dekat Aisyah tetapi tidak mengetahui barang sedikit perihal suaminya.
“Tinggalnya di mana Ummi?” Imam bertanya lebih lanjut.
“Di Jatiwaringin, Pondok Gede”
Klop
. Imam yakin, Aisyah yang dimaksud adalah isteri dari sahabat yang dikenalnya. Tiba-tiba semangatnya bangkit. Ikatan ukhuwahnya mengencang. Dengan kesabaran yang dimiliki, dia coba menembus kerumunan massa yang berdesak-desakan. Tidak disangka, dengan cepat dia telah sampai di Raudhah. Subhanallah. Dia takjub dan penuh syukur. “Kekuatan apa yang menjadikan saya mudah melakukan ini?” Gumam hatinya penuh tanda tanya.

***

Ketika sampai di Raudhah, berbagai bayang keajaiban melintas dalam pikirannya secara berulang ulang. Pertemuan dengan tokoh yang hanya mungkin terjadi karena reformasi politik, doa yang terkabul tanpa diduga, dan kemudahan bertemu Raudhah. Rasanya Allah telah membukaan jalan-jalan bagi terkabulnya doa, yang berakibat dia berada di sini. Sekarang ini. Tak pelak lagi, dia merasa betapa besar perhatian Allah pada dirinya. Betapa kasih dan sayangnya Allah pada dirinya. Hatinya bergemuruh dan pecah. Air matanya berderai, tangis batinnya sesunggukan, dan suarapun terbata-bata menghiba. Dia tertunduk, tertunduk serendah-rendahnya dihadapan Sang Maha Raja Diraja, di hamparan Raudhah sang Taman Surga. Bayangan dosa, kekhilafan, silih berganti muncul dengan bayang taman syurga. Suaranya sayup, timbul-tenggelam dalam kekhusyukan doa.

Itulah kisah Imam yang rintihan doanya terkabul, karena Allah memberikan petunjuk pada dirinya sehingga terbuka jalan menuju keterkabulannya. Kisah ini juga mengisyaratkan tentang suatu hak yang harus ditunaikan. Yaitu hak ukhuwah.

***

Saya teringat kisah sahabat yang mendamba syahid di peperangan. Ketika ditanya rasul apa yang menjadi cita-citanya, dia jawab ‘syahid dalam peperangan’, maka rasul berkata ‘kamu pasti akan menemuinya, jika kamu jujur’. Terbukti kemudian, sahabat itu menemui syahidnya.

Doa yang jujur akan menemukan jalan bagi keterkabulannya. Kita berdoa agar diberi kesempatan pergi haji ke Baitullah, namun dari lubuk hati terdalam kita menginginkan rumah atau mobil atau hal lain yang lebih dominan dari itu. Pantaslah jika ‘keinginan kita’ tiada pernah terwujud. Kejujuran doa juga tercermin dalam perilaku keseharian. Jika Sang Hamba berdoa minta rezeki kecuali yang halal, tentu dia akan hati-hati langkahnya, mematuhi rambu-rambunya, sehingga diperoleh apa diimpikannya. Maha Benar Allah yang berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ” (2:186).

Dan ukhuwah, adalah penguat hati. Terkadang kita merasa lemah jika harus berjuang sendirian. Kehadiran ‘saudara’ atau kecintaan kepada saudara atau kecintaan untuk memperoleh kebaikan dan manfaat bersama, mampu menguatkan hati dan membangkitkan jiwa yang lemah. Kisah-kisah sahabat di zaman Rasul mengajarkan, betapa keikhlasan yang melahirkan ukhuwah, membuka jalan bagi kemenangan dan takluknya kota Makkah (Fathu Makkah) di mana Rasul pernah bermimpi sebelumnya: 'memasuki kota Makkah dengan aman dan tanpa hambatan' .

Waallahua'lam Bishshawaab

http://www.eramuslim.com/oase-iman/membuka-jalan-terkabulnya-doa.htm

Blog EntryNov 8, '11 9:01 PM
for everyone

Kamis, 13/10/2011 14:31 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Tulisan

Setahun yang lalu, dorongan saya untuk datang ke daerah bencana ini begitu kuat. Maka saya pun mengirim aplikasi kerja atas sebuah iklan di suatu media. Suatu ayat yang memotivasiku; "Katakanlah, 'Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu'." (QS. Al-Anam [6] : 11).
Berikut adalah satu hikmah yang saya peroleh.

***

“Eh, kamu dikasih gaji berapa?” Tanya rekan saya, yang juga karyawan baru di lembaga ini. Saya ungkapkan apa adanya, besar gaji yang merupakan hasil negosiasi akhir dengan layanan rekrutmen.

“Wah, gaji saya kok lebih kecil.”

“Eh, kamu tahu ga gaji dia. Wah...gede, hebat”.

Pertanyaan dan jawaban datang silih berganti. Begitulah. Remunerasi menjadi hal yang sangat sensitif di sini.

Remunerasi di lembaga ini ternyata tidak ada standarnya. Tergantung siapa yang merekrut atau atas rekomendasi siapa. Setelah saya survey, ternyata sangat “jomplang” dan berpotensi kontraproduktif. Saya sempat panas juga. Kecewa dengan layanan rekrutmen yang tidak profesional. Saya merasa profesionalitas saya tidak dihargai, karena banyak yunior saya digaji lebih besar. Tapi biarlah. Saya akan jalani dulu.

Seiring waktu, banyak pegawai tahu gaji pegawai lain. Tentu dengan saling “bergerilya” tanya sana-sini, atau tanya langsung kepada yang bersangkutan. Kecurigaan terhadap perubahan gaya hidup dan perilaku terus terpendam. Seorang di bagian administrasi “yang merasa terdholimi” pun mulai ceroboh. Kerahasiaan data personil dan gaji tidak terjaga. Tatkala ada yang melihat dan terperanjat, akhirnya tersebar. Ini berpotensi menjadi bom waktu jika tidak direspon dengan bijaksana.

Dan benar! Bom waktu itu akhirnya meledak. Dua edisi dari tabloid lokal membahas “gurihnya gaji” di lembaga tersebut dan memajang daftar nama, jabatan dan gaji seluruh pegawai yang berjumlah ribuan di lembaga ini.

Masyarakat gempar. LSM geram. Kritikan dan hujatan mengalir bertubi-tubi ke lembaga. Elemen mahasiswa yang biasanya berdemonstrasi menuntut penurunan harga BBM, di sini menuntut penurunan gaji karyawan lembaga. Mereka tidak rela dana yang diperuntukkan buat korban tsunami, dinikmati ramai-ramai tanpa kinerja yang jelas!

Karyawan terpecah. Yang gajinya kecil, minta agar dinaikkan. Nada pun jadi sumbang. “Oh, ternyata gaji mereka segitu ya. Sudah selangit, diberi tunjangan voucher, HP, laptop, pulang ke Jakarta diongkosin, dan bebas pakai mobil. Kalau kinerjanya jelas sih ga papa, lha ini? Mondar-mandir doang!”

“Dia dong yang harusnya jadi ketua tim. Masak saya terus. Gaji dia kan lebih gede!”

“Ah, aku sekarang biasa-biasa sajalah. Percuma aku kerja capek-capek. Ga ada aturan yang jelas.”

Yang gajinya besar, jelas ga mau turun. Mana ada gaji karyawan diturunkan?

Itulah. Dana takziyah tsunami telah menimbulkan “bola api” ke mana-mana. Prasangka buruk, kebencian, ghibah dan perpecahan. Tidak ada team work. Nampaknya aja bekerja sama “demi ummat”. Tapi yang dirasa: sama-sama bekerja “untuk diri masing-masing”. Masya Allah.

***

Lain pengalaman saya waktu bekerja di lembaga pembangunan ummat di Jakarta, yang juga menerima dan menyalurkan dana takziyah tsunami. Rasanya, masing-masing personil ingin berbuat maksimal dan berbuat yang terbaik untuk para korban. Saya dekat dengan pimpinan dan punya akses keuangan. Jadi saya tahu persis “siapa” dan bergaji “berapa”. Tidak besar. Wajar-wajar aja. Operasional lembaga diawasi oleh dewan syariah. Bekerja untuk pengabdian, bukan menumpuk kekayaan.

***

Penghasilan atau harta, terutama yang berasal dari dana publik, sepertinya memiliki “kecerdasan”. Tentu kecerdasan itu berasal dari yang Maha Cerdas. Harta halal, jika tidak kita keluarkan hak fakir miskin didalamnya, dia akan menjadi “bara api”. Lebih-lebih harta haram, dana publik yang diambil tidak sah, yang “semuanya” adalah hak fakir miskin. Ibarat “bola api yang menyala-nyala”. Harta itu memberikan efek yang bervariasi, bertingkat, sesuai kadar “haram” yang dikonsumsinya.

Ini “hipotesis” yang bisa benar atau tidak. Semoga menjadikan kita lebih arif menyikapinya.

Teman-teman saya di sini, yang dulunya pernah “mengaji”, sekarang tidak lagi. Yang dulu rajin shubuh berjamaah ke masjid, sering absen. Dulu pernah hafal dua juz Al-Qur’an, kini sulit memulihkannya. Yang dulu terjaga lisannya, kini ngaco.

Di luar sana, banyak berdiri bangunan megah dan berseliweran mobil-mobil baru. Kota yang dulunya sepi jadi rame. Meriah, akibat limpahan uang berpadu dengan euphoria kebebasan. Apakah ini suatu keberkahan?

Keberkahan seharusnya berbanding lurus dengan manfaat dan kebaikan. Jika ada manfaat, maka kemiskinan pun berkurang. Namun yang terjadi; yang miskin, jadi lebih miskin. Yang kaya makin kaya. Jika ada kebaikan, tidak ada lagi gadis-gadis yang cantik-cantik di sini mengumbar aurat, bermesum, berkhalwat, dan berpacaran secara transparan. Tiada lagi intimidasi, teror, dan sumpah palsu demi memenuhi ambisi. Jika ada kebaikan tentu ada sensivitas hati menerima kebaikan, dari siapapun datangnya.

***

Saya bertafakkur. Jangan-jangan, dana tsunami itu telah menemukan “kecerdasan”nya. Bermetamorfosis menjadi bara dan bola api yang membakarhati-hati manusia. Korban-korban berjatuhan tanpa sadar. Waallahua’lam.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/harta-itu-memiliki-kecerdasan.htm

Blog EntryNov 8, '11 8:57 PM
for everyone

Sabtu, 24/09/2011 05:00 WIB | Arsip | Cetak   Kirim Tulisan

Rutinitas kerja dan kesibukan dunia yang tiada habisnya, sering menjadi penyebab dari hati yang kering, meranggas, dan gersang dari sumber mata air iman yang menyejukkan. Ibarat kafilah yang melintas di padang pasir dengan muatan harta yang berlimpah, ia menjadi tidak bernilai tatkala kehausan (dehidrasi) memenuhi sekujur raganya. Setetes air, yang tatkala dalam kondisi wajar harganya tiada seberapa, menjadi bernilai luar biasa dalam kondisi jiwa yang dirundung kegersangan tiada tara.

Itulah fithrah dari orang-orang beriman, yang senantiasa mendamba nilai-nilai yang mampu menyuburkan keimanannya. Itu pula yang dirasakan sekelompok Muslimah yang bekerja sebagai karyawati atau eksekutif di salah satu gedung perkantoran kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Di tengah kondisi berkecukupan karena manfaat (benefit) dari status karier yang dimilikinya, hati mereka sebenarnya tidak sepenuhnya tercukupi kebutuhannya. Jiwa mereka dahaga. Mereka mendamba keluasan hati laksana samudera, kesejukan jiwa laksana embun di pagi hari, dan kedamaian laksana bunyi debur ombak yang menentramkan jiwa.

Sebagai anggota komunitas yang menghuni kawasan perkantoran modern, para Muslimah itu tentu tidak ketinggalan informasi aktual khususnya menyangkut informasi keIslaman dan keimanan, baik berupa taujih, tausiyah, perenungan, tafakkur, atau kisah-kisah singkat yang sarat pesan dan inspirasi tentang bagaimana seharusnya mengelola kehidupan menuju ridho-Nya. Namun semua itu rasanya tiada cukup manakala mereka belum berinteraksi dan bersentuhan langsung dengan sumber penawar dahaga keimanan, yaitu Al-Quran.

Sudah masyhur di tengah perbincangan mereka bahwa bagi yang membaca Al-quran, maka satu huruf yang dibacanya berbalas dengan sepuluh kebaikan. Dan bukanlah “Alif Lam Mim” itu satu huruf, akan tetapi “Alif” satu huruf, “Lam” satu huruf, dan “Mim” satu huruf. Luar biasa, dengan membaca “Alif Lam Mim” saja, pembaca Al-quran sudah mendapatkan tiga puluh kebaikan. Subhanallah. Ketakjuban terasa memenuhi relung jiwa mereka. Ini baru membaca saja. Apatah lagi jika memahami isinya dan apatah lagi jika ayat-ayat itu diamalkan dalam kehidupan nyata. Tentu, pribadi-pribadi yang dihiasi dengan nilai Al-quran akan memancarkan kedamaian dan kesejukan yang luar biasa. Jiwanya penuh kebaikan. Dan kebaikan itu tidak melahirkan apapun selain kebaikan yang berlipat.

Sungguh indah gambaran seorang pembaca Al-quran, pohonnya bagus dan buahnya wangi. Itu adalah balasan Allah di dunia. Dan di akhirat Al-quran akan memberikan syafaat bagi pembacanya sehingga ia terhindar dari jilatan api neraka yang menyala-nyala. Sekelompok Muslimah itu jelas tersentuh mendengar kabar gembira ini, dan motivasi untuk segera mewujudkannya semakin membesar dan menggelora di dada.

Langkah pertama yang dilakukan mereka adalah menghubungi guru tahsin Al-Quran di kawasan Bekasi. Mereka mengemukakan hasrat keinginan belajar baca Al-quran kepada guru itu. Ada sedikit kegamangan dari para guru untuk memenuhi keinginan sekelompok Muslimah di gedung perkantoran itu karena lokasinya yang cukup jauh. Jika yang harus berangkat adalah seorang guru laki-laki, barangkali lokasi yang jauh tidak cukup bermasalah. Bagi guru Muslimah yang harus memfokuskan diri pada tugas-tugas kerumahtanggaan, hadir ke lokasi yang jauh cukup terasa memberatkan. Tidak sekedar dibutuhkan waktu dan energi yang cukup besar yang boleh jadi tidak sebanding dengan honor yang akan diterima, guru Muslimah itu boleh jadi lebih nyaman mengajar di lingkungan sekitar tempat tinggalnya, sehingga masih bisa memantau keadaan anak-anak yang diasuhnya.

Syukurlah, ada seorang guru yang menaruh perhatian kepada mereka. Bagi sang guru itu, keinginan belajar dari sekelompok Muslimah di perkantoran itu ibarat benih yang harus dipelihara dan disediakan media pertumbuhannya. Alangkah sayangnya jika benih itu dibiarkan mati sebelum ditanam. Dakwah harus ditegakkan. Dakwah yang sejatinya adalah menumbuh-suburkan kebaikan, baik pada diri sendiri maupun orang lain, memang membutuhkan pengorbanan yang tiada kecil dari para pelakunya.

Langkah kedua setelah mereka mengetahui bahwa keinginan mereka bakal terwujud, mereka segera berkoordinasi menyediakan waktu luang dan menyediakan tempat yang memadai untuk belajar baca Al-quran. Mereka berpatungan untuk mendukung operasional kegiatan. Layaknya organisasi mereka membentuk ketua, bendahara, dan sekretaris. Pengetahuan organisasi yang mereka miliki, mereka terapkan guna kelancaran dan keberhasilan proses belajar dan mengajar.

***

Tidak semua upaya yang dilakukan oleh beberapa kelompok Muslimah untuk menghadirkan guru tahsin menemukan kemudahannya. Bagi sekelompok Muslimah di perkantoran itu, bisa mendatangkan seorang guru untuk hadir ke kantor menyambangi mereka adalah satu hal yang patut disyukuri. Pertama, pertimbangannya tentu karena untuk datang sendiri-sendiri ke lembaga tahsin pada hari Sabtu atau Ahad, bagi mereka adalah suatu pekerjaan yang teramat berat karena mereka merasa harus siaga di rumah mendampingi suami dan anak-anak, sebagai kompensasi ketidakhadiran mereka pada hari-hari lainnya akibat bekerja di kantor.

Kedua, mereka menemukan guru yang mau membimbing mereka karena dorongan kecintaan untuk menyebarkan nilai-nilai qur’an. Meski dirasakan cukup berat, Sang guru itu berkomitmen melangkahkan kaki ke gedung perkantoran guna mengajari ibu-ibu dan para Muslimah yang dahaga dengan bacaan Al-quran. Kadang untuk pergi ke sana, sang guru tidak segan menumpang taksi untuk mengejar ketepatan waktu pembelajaran. Terkadang pula, sang guru harus berhimpit-himpitan beberapa kali naik moda transportasi, menahan lelah akibat mengurus anak-anak sebelumya dan berjuang melawan asap rokok dan debu-debu yang beterbangan di sekelilingnya. Ya, kondisi badannya memang rentan. Tetapi kecintaan kepada ibu-ibu dan kaum Muslimah yang mendamba oase iman dari lautan kalam Ilahi itu, menjadikannya harus melupakan kondisi berat yang kadang dijumpainya.

Ketiga, mereka mendapatkan guru bukan sembarang guru. Tetapi guru dari lembaga tahsin terpercaya, yang telah memiliki kurikulum baku dalam pengajaran baca Al-Qurannya.

Menyadari keberuntungan-keberuntungan itu, mereka pun berlatih dengan keras dan berdisiplin. Alhamdulillah, dalam jangka waktu tidak lama, mereka pun mampu membaca Al-Quran secara baik.

***

Sebagian besar ummat Islam saat ini, tidak dipungkiri, memiliki tingkat kedekatan yang rendah dengan Al-quran. Jangankan berbicara masalah penerapan nilai-nilai Al-quran dalam kehidupan, pemahaman akan isi dan kandungan Al-quran sebagian besar ummat Islam pun masih terasa sangat kurang. Terbukti makin merebaknya aliran-aliran sesat yang menyusup di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Terlepas apakah merebaknya aliran sesat itu adalah wujud konspirasi atau bukan, seharusnya fenomena-fenomena itu menyadarkan seorang Muslim untuk lebih dekat kepada sumber agamanya. Salah satunya dengan belajar dan berlatih berinteraksi lebih dekat dengan Al-quran, yang dimulai dengan interaksi dengan cara belajar membacanya.

Betapa banyak orang mengaku tidak bisa membaca Al-quran, tetapi tidak banyak yang menindaklanjuti dengan membentuk kelas pengajaran seperti dilakukan oleh para Muslimah di perkantoran itu. Betapa banyak orang yang mengaku dahaga dan jiwanya kering, tetapi mereka malah hanyut dengan lagu-lagu “ruhani”, bukan berinteraksi sedekat-dekatnya dengan Al-quran penyubur jiwa.

Tidak semua orang bisa peduli dengan Al-quran, padahal Al-quran adalah salah satu pusaka (selain Al-Hadits) yang mampu menyelamatkan kehidupan manusia, baik di dunia ini maupun sesudahnya, dari malapetaka dan mara bahaya. Tidak semua orang bisa menghadirkan nilai-nilai Al-quran di relung jiwa. Hanya mereka yang berhati bersih dan ikhlas saja lah yang mampu melakukannya.

Ada baiknya setiap hamba bertanya kepada diri masing-masing “sudah adakah Al-quran dalam hatiku?”. Ya, sebab jika bukan Al-quran yang ada dalam hati, berarti ada nilai-nilai non-qurani yang bersarang dan mendominasi jiwa, yang boleh jadi bukan menuntun akan tetapi menyesatkan sang hamba dari jalan kebenaran.

Nampaknya, kita perlu belajar dari kaum Muslimah dalam kisah tersebut yang berusaha memenuhi relung jiwanya dengan Al-quran. Meski baru hendak belajar membacanya, hal Itu adalah awal mula yang sangat baik, sebab hanya dengan belajar kesuksesan dunia atau akhirat pun bisa diraih dan dikejar.

Waalahua’lamu bishshawaab.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/adakah-al-quran-dalam-hatiku.htm

Blog EntryJun 21, '11 9:18 PM
for everyone
Rabu, 22/06/2011 06:54 WIB | email | print

Di sebuah kampung hiduplah seorang nenek guru ngaji. Beliau dikenal dengan kesantunan, kelembutan, dan kesabaran dalam mengajarkan ilmu agama. Namun demikian dalam hal syariat beliau dikenal sangat jujur dan disiplin.Artinya beliau akan mengatakan A jika memang A dan mengatakan B jika memang B, meski pendapat beliau itu berlawanan dengan pendapat masyarakat pada umumnya yang masih awam.

Usianya sudah uzdur (sekitar 70 tahunan) namun masih segar pancaran wajahnya dan afiat organ tubuhnya. Tidak banyak yang mengetahui keberadaan dirinya, khususnya bagi pemukim baru di kampung itu. Orang menyebut beliau sebagai Nenek Haji (karena sudah naik haji), Nenek Guru, Ustadzah, Encang Haji, atau Encang Guru. Nama aslinya jarang di sebut orang. Ia mengajarkan ilmu agama dan baca Al Quran di rumahnya nan sederhana, di sebuah kampung di pinggiran kota metropolitan.

Encang Guru dikenal tidak membedakan siapapun. Tidak pula membedakan usia. Siapa saja yang ingin mengaji , dipersilahkan datang ke rumahnya secara rutin pada hari dan waktu tertentu. Hanya saja dipesankan kepada mereka yang ingin mengaji, haruslah serius dan istiqomah. Tidak bisa untuk sekedar main-main dan coba-coba.

Dulu, jamaah pengajiannya adalah jamaah kecil. Namun kini, seiring dengan makin mengenalnya orang-orang akan kesantunan, keilmuan, dan sifat penyabar itu, banyak orang yang makin memuliakan diri beliau. Sebuah organisasi besar telah mencatat beliau sebagai tokoh yang semestinya dihormati, dimuliakan, dan diberikan tempat yang sepadan dengan keilmuan dan akhlaknya yang mulia.

Nah, di kampung yang sama hiduplah seorang pria kepala lingkungan yang sifatnya bertolak belakang (antagonis). Dia masih jauh lebih muda (sekitar 50-an) dan memiliki profesi yang sedikit banyak adalah sama, yaitu guru mengaji. Hanya saja dia cenderung bersifat komersial dan serba duniawi. Sebut saja namanya Ustadz Darly

Sebagai contoh sederhana, ketika ia akan memberikan khutbah jumat, maka ia akan pilih-pilih masjid yang bisa memberikan honor besar. Jika ada proyek dari desa/kelurahan, dialah yang bertindak sebagai satu-satunya orang (di lingkungannya) yang bisa mengajukan proposal, mencairkan dana, dan membuat laporan pertanggungjawaban yang realitanya berbeda dengan apa yang dilaporkan.Semuanya dibawah kontrol dia dan keluarganya. Semua kepala lingkungan dibawahnya, tidak ada yang berkutik dan tidak tahu dengan pasti. Jika saluran air diperbaiki ya Alhamdulillah, meski yang diperbaiki 20 m dan yang dilaporkan 100 m. Jika jalan lingkungan di aspal dengan memungut iuran masing-masing rumah yang dilewati sebesar Rp 100.000 ya Alhamdulillah, meski semestinya tanpa harus memungut iuran warga dan semestinya dengan pengaspalan yang bagus. Orang yang banyak berhubungan dengan kelurahan saja yang tahu sepak terjangnya, kemudian mereka membocorkannya ke masyarakat secara off the record. Jadi semua pada diam, namun sebenarnya sudah sama-sama paham.

Pada suatu hari dia bertemu dengan Encang Guru di depan rumahnya. Terjadilah percakapan,

“...ngomong-ngomong kontraknya masih panjang apa sebentar lagi nih!”

Darly melontarkan pertanyaan yang bermaksud meledek. Kata seorang warga, memang demikianlah watak si Darly, suka meledek dan memojokkan orang. Rasanya dia tidak akan puas jika belum membuat orang tersinggung atau sakit hati.

Mendengar ledekan Ustadz Darly tadi, Encang Haji hanya berujar dengan sabar, boleh jadi dengan menahan sedikit luka hati di dadanya. Suaranya dipelankan dan disabar-sabarkan.

“Nak Haji..., Namanya umur itu, kita tidak bisa tahu....”

Buru-buru Ustadz Darly memotong pembicaraan,

“...Tapi kontrak gua masih panjang Nek Haji....”

“...Yah namanya umur, Nak Haji ga boleh begitu. Semua sudah ditentukan takdirnya oleh Allah..”

“Iya, tapi kontrak gua masih lebih panjang kan Nek Haji?”

Encang Guru hanya bisa diam mendengar Ustadz Darly yang tidak mau kalah dengan ledekannya. Jika perlu harus mengelus dada untuk menyadarkannya, boleh jadi Encang Haji mungkin sudah melakukannya. Namun apa daya, beliau sudah maklum barangkali.

Kebetulan Ustadz Darly sedang bersama isterinya waktu itu, yang perilakunya tidak jauh beda dengan dirinya. Tiba-tiba isterinya berujar :

“Siapa yang bakal jadi janda lagi ya Nek Haji..”

Isteri Ustadz Darly itu tidak mau kalah bercanda dengan kematian. Encang Haji memang sudah Janda. Seakan dia mengatakan bahwa suaminya masih muda dan masih lama hidupnya di dunia.Tidaklah mungkin dirinya yang terima giliran dan di menjadi janda. Dia menyudutkan Encang haji dengan mengisyaratkan sebuah pertanyaan “Jika bukan Encang Haji yang akan segera wafat lantas siapa dong?”

---

Dua hari kemudian, terdengarlah berita heboh yang tidak disangka-sangka. Ustadz darly dikabarkan meninggal akibat komplikasi usus buntu di sebuah rumah sakit di kota metropolitan.

Sebagian orang menerima kabar dengan sikap biasa tanpa antusias, sebagian lagi kaget karena baru beberapa hari lalu berjumpa dalam kondisi sehat, dan sebagian lagi mensyukuri di dalam hati masing-masing.

Namun ada satu orang yang bergetar jiwanya mendengar kabar itu. Dan ini terungkap beberapa hari setelah masa berkabung lewat dan Dia menceritakan kejadian aneh itu kepada orang terdekat. Dialah Nenek Guru itu.

“Sampai hari ini hati saya masih bergetar jika mengingat kejadian itu....” ujar beliau.

Tanpa menyebut kenapa, kita bisa maklum dan merasakan suasana batin beliau. Beliau tidak mengatakan sesuatu kata apapun ketika beliau diledek dan dipojokkan. Padahal seharusnya dia dimuliakan karena jauh lebih tua dan memang secara integritas dan keilmuan beliau lebih baik.Namun agaknya, Allah SWT tidak rela hambanya yang mukhlis disakiti dan dilukai hatinya.

Allah SWT telah menjawabkan pertanyaan yang enggan beliau jawab waktu itu. Allah SWT telah membalaskannya dengan balasan yang adil.

Hati beliau bergetar karena kekuasaanNya begitu terbentang jelas dihadapan beliau.

Naudzubillah. Semoga kita terhindar dari melukai hati hamba Allah yang berjiwa mulia. Dan semoga ini menjadi penguat bahwa kita tidak perlu risau atau takut dengan celaan orang-orang yang mencela kepada kita. Sandarkan segalanya kepada-Nya. Allah SWT memiliki jawaban terbaik bagi hambaNya.Wallahua’lam.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/muhammad-rizqon-kematian-yang-menggetarkan-jiwa.htm


Blog EntryJun 8, '11 1:46 PM
for everyone
Rabu, 08/06/2011 07:14 WIB | email | print

Bara adalah julukan perusahaan lokal yang bergerak di bidang penambangan batubara. Bara dibeli oleh perusahaan PMA (penanaman modal asing) yang secara hukum tidak diperkenankan memiliki izin kuasa penambangan. Akte pendirian si Bara diperbaharui ketika diakuisisi. Jabatan komisaris dan direksi diberikan kepada mereka yang tidak memiliki otoritas apa-apa. Mereka sekedar nama yang disematkan. Mereka adalah pekerja lokal perusahaan PMA itu, baik level manajer, staff atau bahkan office boy. Kini dengan tangan si Bara, perusahaan PMA itu memenuhi syarat yuridis memiliki izin kuasa penambangan batubara.

Perusahaan induk si Bara memiliki modal yang sangat besar. Jika modalnya tidak cukup, ia masih memiliki investor yang dengan senang hati bermitra dengannya. Dengan modal/dana besar yang dimilikinya itu, maka eksekusi penambangan bisa dilakukan dengan mudah.

Setelah sekian tahun berada pada tahap pengembangan, kini si Bara sudah memulai tahap produksi. Setiap hari bisa mengambil batubara sekitar 100.000 ton. Dengan asumsi harga per ton adalah US 127,5, maka produksi hariannya berkisar Rp 114,75 milyar (Asumsi 1 USD=Rp 9.000). Masa konsesi yang masih dimiliki si Bara adalah 16 Tahun. Jadi sampai dengan akhir masa konsesi diperkirakan si Bara bisa mengambil batubara senilai Rp 660,96 trilyun (Rp 41,3 trilyun per tahun).

Berdasarkan hasil kajian saat ini, diperkirakan potensi batubara masih bisa dieksploitasi selama 100 tahun ke depan. Jika ditemukan cadangan baru, bisa jadi masa eksploitasi akan lebih panjang lagi. Artinya potensi batubara masih tersimpan demikian besarnya. Wajarlah jika banyak perusahaan yang berduyun-duyun terjun di bidang penambangan batubara, hingga mencapai jumlah ribuan.

Berapakah kira-kira batubara yang bisa dikeruk dari bumi pertiwi? Jika ada 100 perusahaan saja dengan kemampuan produksi harian rata-rata 100.000 ton , maka setiap hari tergali 10.000.000 ton senilai Rp 11,47 trilyun. Setahun senilai Rp 4.131 trilyun.

Gambaran maraknya penambangan batubara bisa kita bayangkan dari penuturan masyarakat setempat yang menggambarkan bagaimana sibuknya lalu lintas tongkang-tongkang batubara yang berkonvoy menyusuri sungai setiap hari dari subuh hingga senja di wilayah konsesi. Setiap tongkang, diperkirakan mengangkut 6.000-8.000 ton. Dalam waktu 30 menit, sekitar 10 tongkang lewat menyusuri perairan. Artinya satu jam bisa terangkut 12.000-16.000, satu hari (asumsi 12 jam) terangkut 144.000-192.000 ton. Ini baru dari satu titik pengamatan dan satu trayek tongkang. Trayek lain belum teramati karena wilayah konsesi penambangan sangatlah luas. Kemana larinya batubara itu? Sebagian besar batubara ini diekspor keluar Indonesia.

Ada pesan dibalik fenomena tersebut. Pesan pertama bernada ironi. Satu sisi menunjukkan bahwa kekayaan Allah SWT itu begitu amat luas dilimpahkan untuk umat di bumi pertiwi ini. Betapa tidak. Itu baru kekayaan batubara, belum sumber daya alam lainnya seperti minyak, gas, timah, emas, hasil laut, hasil perkebunan, hasil hutan, dll. Pada sisi lain fenomena itu menunjukkan bahwa komunitas yang hidup di wilayah penambangan khususnya dan rakyat indonesia pada umumnya, tidak sepenuhnya menikmati kekayaan alam yang melimpah ruah tersebut.

Pesan kedua bernada inspiratif dan motivatif. Allah SWT membuktikan rezeki-Nya yang teramat luas dan tidak terbatas. Allah SWT menguji manusia apakah dia mau menjemputnya dengan jalan hak ataukah batil. Apakah mengutamakan kemaslahatan orang banyak atau segelintir orang saja. Biasanya jalan batil ditempuh manusia karena merasa bahwa itulah kesempatan emas yang harus digunakan. Jika tidak, maka dia tidak akan mendapatkannya di kemudiaan hari. Padahal rezeki Allah itu luas meliputi saat ini dan esok. Jadi tidak alasan untuk tidak mendapatkan rezeki di kemudian hari.

Kekayaan Allah SWT akan rezeki hendaknya memacu kita untuk semangat bekerja. Yakinlah bahwa dengan semangat bekerja maka Allah SWT akan menurunkan rezeki-Nya. Ironisnya, mungkin kebanyakan kita adalah malas dalam bekerja. Jika giat dalam bekerja pun sayangnya untuk sebuah konspirasi dan kejahatan. Maka kondisi yang awalnya ironi, melahirkan ironi dan ironi.

Semoga Allah SWT memberi petunjuk kepada kita untuk giat bekerja yang disertai dengan visi ibadahn memakmurkan dan mensejahterakan bumi kita.

Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS 9:105)

Waallahua’lam.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/muhammad-rizqon-rezeki-allah-teramat-luas.htm

Blog EntryJun 5, '11 12:09 PM
for everyone

Harto (bukan nama sebenarnya) saat ini sedang semangat-semangatnya menekuni bisnis barunya.  Saking semangatnya, profesi konsultan yang melekat pada dirinya pun menjadi dinomorduakan. Malah fokusnya kini bagaimana menjadikan relasi-relasi kliennya sebagai member dari jaringan bisnis yang baru dibentuknya itu. Soal teknis pekerjaan konsultan, ia lebih banyak mengalihkan ke pihak lain. Dalam bahasa sederhana, ia lebih suka mensubkontrakkan pekerjaan daripada menanganinya sendiri. Waktunya kini tersita untuk presentasi, membangun jaringan, dan mengaet investor-investor baru untuk bisnisnya. 

Alasan kenapa ia menekuni bisnis barunya itu, karena dalam jangka waktu singkat dia telah membuktikan bahwa ternyata bisnis itu begitu menjanjikan.  Ia menginvestasikan uang sebesar Rp 10 juta, dan dalam waktu sebulan ia sudah mendapatkan Rp 100 Juta atau sepuluh kali lipat. Dalam jangka waktu enam bulan, ia sudah mendapatkan Rp 500 Juta.  Sebagai bukti bahwa ia telah berhasil, ia pernah menunjukkan mobil baru hasil dari pendapatan bisnisnya itu. Luar biasa.

Ia menargetkan dalam jangka waktu setahun bisa mendapatkan Rp 1 milyar. Ini artinya dalam waktu setahun tingkat kembali modalnya (return on investment) adalah 100 kali lipat (10.000%). Jika dirata-rata penghasilannya sekitar Rp 83 Juta sebulan. Penghasilan besar begini tidak ia dapatkan ketika ia menjadi konsultan freelance. Oleh karena itu ia berterus-terang bahwa bekerja sebagai konsultan itu capai dan hasilnya tidak seberapa. Mendingan ia menekuni bisnisnya itu karena bisa menghasilkan pendapatan yang besar dan signifikan.  

Sudah tiga kali ia mengundang saya untuk hadir di pertemuan bisnisnya. Dua kali lewat SMS, dan sekali ketika sempat berjumpa langsung. Saya sebenarnya kikuk mendapat undangan dari kakak senior yang saya hormati itu. Jika tidak dipenuhi, khawatir memberi image tidak menghormatinya. Oleh karenanya saya cenderung tidak merespon atau merespon biasa saja ketika ia bersemangat menceritakan bisnisnya itu.  

Namun agaknya ia mulai menangkap bahwa saya kurang tertarik dengan bisnisnya. Tempo dulu ia pernah mengajak bisnis serupa dimana targetnya dalam dua tahun bisa membeli mobil BMW. Namun ternyata target itu tidak tercapai. Ia mulai beranggapan bahwa saya mungkin belajar dari pengalaman masa lalu dan sudah tidak tertarik dengan ajakan bisnisnya . Meskipun berkali-kali ia menegaskan bahwa bisnis barunya ini berbeda dan unik, saya sudah antipati dan tidak memiliki ketertarikan dengan bisnisnya itu.

Soal percaya dengan skemanya itu mungkin iya. Namun yang menjadi point bagi saya adalah ketidakwajaran bisnis. Saya khawatir ada pihak yang diuntungkan di atas pihak yang terdholimi. Lagi pula produk bisnisnya itu tidak benar-benar dibutuhkan, kecuali yang menjadi sasaran adalah mereka yang memang suka berpelancong atau mengadakan perjalanan bisnis ke luar negeri.  

Ia mengatakan bahwa setiap orang yang ia prospek dan menginginkan uang, maka ia pasti tertarik dengan bisnis ini. Namun karena ia melihat bahwa saya kurang tertarik, ia pun mengambil kesimpulan berdasarkan asumsinya itu.

“Anda ini sebenarnya lebih butuh uang atau pekerjaan? Saya terus terus terang pekerjaan itu banyak. Klien saya banyak. Namun saya capek karena hasilnya kecil dan tidak sepadan. Kalau Anda lebih suka dengan pekerjaan Anda akan capek seperti saya dulu...”

Menanggapi pernyataannya itu saya berujar, “ Saya mohon maaf, saya masih mau fokus di bidang saya. Bukan saya tidak mau uang, tetapi saya berfikir dengan fokus di bidang saya, saya juga akan mendapatkan uang meski tidak sebanyak Bapak peroleh. Kalau saya terjun juga ke bisnis bapak, bagaimana dengan klien-klien saya. Klien bapak juga bagaimana? Gini saja pak, kita berbagi tugas. Jika ada klien yang tidak bisa bapak tangani, serahkan saja ke saya. Biar bapak fokus di bisnis baru bapak.”

Pada akhirnya ia mengatakan, “ Okelah kalau memang demikian, nanti klien-klien saya, Anda saja yang menangani.”

---

‘Bekerja’ dan ‘Mencari uang’ adalah dua terminologi yang akrab dalam kehidupan keseharian. Ketika seorang anak/isteri merasa bahwa kebutuhannya kurang tercukupi oleh orang tua/suami, maka ia memohon agar orang tua/suaminya lebih giat bekerja atau mencari uang. Dan ketika seorang ayah yang tidak berada di rumah dan ditanya oleh anaknya, ia pun menjawab sedang bekerja atau mencari uang. Dua terminologi itu dalam banyak kasus bisa saling menggantikan untuk maksud yang sama. Namun dalam kasus Harto di atas memiliki makna yang masing-masing berbeda.

Orientasi ‘mencari uang’ adalah murni duniawi. Karena tujuan utamanya adalah ‘uang’ maka prosesnya pun kurang relevan untuk dibicarakan. Entah itu mendholimi orang lain atau tidak maka tidaklah menjadi soal. Sedangkan orientasi ‘bekerja’ adalah amal dengan mengerahkan segenap pikiran atau tenaga. Proses masih dikedepankan di sini. Jika proses bekerja tidak tepat dan mematuhi pedoman, maka hasilnya pun tidak maksimal.

Ada teman yang mengeluh kenapa ia sudah bekerja keras tetapi hasilnya tidak banyak. Seseorang berkomentar untuk hal ini, “Ya benar saja karena orientasinya BUKAN UANG”. Namun orang yang beorientasi uang banyak juga dikeluhkan sebagai telah mendholimi orang lain atau tidak proper dalam menjalankan bisnisnya. Seseorang berkomentar untuk hal ini, “ Ya benar saja karena orientasinya UANG.”

Saya mengambil hikmah bahwa uang sebaiknya tidak dijadikan parameter utama dan sebaiknya dipahami bahwa bekerja itu bukan semata-mata karena UANG. Sebagai contoh, saya yakin dari sekian banyak penulis yang menulis artikel atau reportase di media on-line, bukanlah semata karena UANG. Ada banyak tujuan lain selain uang.

Alangkah baiknya bila kita berorientasi bekerja dengan sebaik-sebaiknya. Memiliki target pendapatan boleh saja, tetapi itu tidak mengurangi profesionalitas dalam bekerja. Insya Allah dengan bekerja yang sebaik-baiknya itu, maka Allah akan memberikan hasil yang sepadan. Sayangnya kita boleh jadi sering terlalu naif. Kita selalu menafsirkan hasil sepadan itu dengan uang/materi yang ujung-ujungnya menimbulkan keraguan kita akan keadilan Allah SWT.

Semoga Allah memberikan pemahaman ‘bekerja’ yang benar kepada kita sehingga ‘bekerjanya’ kita bisa memberikan nilai tambah baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Amin. 

http://www.eramuslim.com/oase-iman/muhammad-rizqon-antara-mencari-uang-dan-bekerja.htm

Blog EntryMay 8, '11 2:28 AM
for everyone
Minggu, 08/05/2011 13:02 WIB | email | print

Menetapnya seseorang di suatu tempat, dalam jangka waktu yang cukup lama, sering meninggalkan sebuah kesan dan kenangan yang tidak terlupakan. Hikmah yang singgah, karena cukup mencerahkan, membekas dalam lubuk hatinya yang terdalam.

Suatu ketika saya tinggal di Jakarta semasa kuliah, ikan adalah menu makanan yang tidak begitu saya gemari. Menu ikan tertentu saja yang saya sukai seperti ikan bandeng atau cumi yang tumis, itu pun racikan ibu saya di kampung. Jadi praktis saya akan makan ikan jika pulang kampung. Semasa perkuliahan jarang sekali saya makan ikan. Bagi saya ikan adalah hal yang biasa dan tidak istimewa.

Begitu selepas masa kuliah dan saya harus tinggal di propinsi Maluku, mau tidak mau saya harus mencoba dan merasakan menu ikan yang cukup beragam. Ikan sangat mudah dijumpai di pasar dan kedai makan, dan harganya pun sangat terjangkau. Saya jadi terbiasa makan ikan, bahkan kini menjadi lebih suka ikan dibanding daging ayam. Pemahaman saya makin bertambah bahwa ternyata ikan memiliki kandungan gizi yang bagus. Setidaknya kini, ikan (yang dibeli hidup) lebih natural dibanding daging hewan ternak yang proses pembentukannya kadang menuai keprihatinan seperti disuntik, atau rekayasa lain.

Pengalaman serupa terjadi pula manakala saya harus pindah ke Palembang. Jujur, saya tidak menyukai makanan pempek pada awalnya. Pernah suatu ketika bertamu di sebuah keluarga di Jakarta, saya disuguhi makanan pempek dan saya tidak bisa menghabiskannya karena rasanya yang begitu aneh dan asing di lidah. Sejak saat itu saya antipati dan memiliki stigma negatif terhadap pempek.

Namun ketika saya menetap di Palembang, saya lihat orang makan pempek dimana-mana. Kedai pempek juga tersebar, dari yang kelas kaki lima hingga restaurant. Tamu-tamu yang balik ke Jakarta dengan pesawat pun, tidak sedikit yang menenteng pempek sebagai oleh-oleh. Karena tidak alternatif makanan khas lain, pernah suatu ketika saya mengikuti mereka membeli pempek sebagai buah tangan untuk keluarga. Tidak dinyana ketika dimasak dan disajikan, saya mendapatkan rasa yang berbeda. Pandangan saya tentang pempek yang tadinya negatif jadi positif. Yang tadinya antipati menjadi suka. Ternyata pempek dari sumber penghasilnya (ahlinya) begitu orisinil dan lezat.

Begitu pun ketika saya ke Banda Aceh. Sebelum menetap di sana, saya bukanlah penikmat kopi (hobi minum kopi). Kalo minum kopi, bawaan jantung saya jadi berdebar lebih kenceng dan berakibat susah tidur. Pernah ketika masa kuliah, ada kawan yang membawa kopi Lampung. Saya minum sedikit ketika malam menjelang ujian tengah semester. Eh saya tidak bisa tidur. Kopi yang tadinya saya gunakan sebagai pemicu belajar malah menjadi kontraproduktif karena paginya saya menjadi tidak segar pikiran karena kurang tidur.

Namun ketika saya menetap di Aceh, saya lihat orang minum kopi dimana-mana. Kedai kopi pun tersebar luas di sudut-sudut kota dan desa. Ketika teman mengajak minum kopi, saya pun mengikuti. Tentu setelah dikasih penjelasan bahwa kopi di sana beda dengan kopi di Jakarta. Nikmat memang. Lebih-lebih ternyata kopi itu tidak menjadikan jantung saya berdebar kencang. Minum kopi layaknya minum teh saja, yang kadar kafeinnya sudah jauh berkurang karena proses memasaknya yang berbeda. Sejak itu saya jadi suka ngopi. Meski tidak sering, sudah ada pemahaman bahwa tidak semua kopi itu sama. Ada yang berbeda.

***

Islam adalah sistem yang sempurna. Pemahaman ini sejatinya harus ada di hati kaum muslimin yang menyatakan diri sebagai seorang Muslim. Sebab jika tidak, keimanan bisa gugur karena meragukan sistem yang berasal dari dzat yang Maha Sempurna, yakni Allah Azza Wa Jalla.

Boleh saja kaum non muslim membenci sistem Islam. Bahkan Allah menginformasikan bahwa kebencian mereka begitu tertanam kuat dan mereka tidak akan pernah rela kaum muslimin memahami Islam secara benar, sesuai apa yang dicontohkan Rasulallah SAW dan pemahaman para sahabat, hingga kaum muslim mengikuti millah (gaya hidup) mereka. (QS. Al Baqarah 120). Namun jika kebencian, prasangka dan stigma negatif dimiliki oleh orang yang mengaku muslim, sungguh sungguh sangat tidak wajar. Jika bukan karena unsur kebodohan (jahiliyah) pasti ada unsur keangkuhan.

Saya bodoh ketika punya pemahaman bahwa pempek itu adalah seperti yang saya rasakan di Jakarta, saya juga bodoh ketika punya pemahaman bahwa semua kopi mengandung kafein tinggi. Saya terjebak dalam pola pikir menggeneralisasi sesuatu hal dan mengambil kesimpulan yang salah. Alhamdulillah, saya mau mencoba-coba dan merasakan hingga menemukan yang aslinya.

Hikmahnya, kita dituntut adil dalam mensikapi sesuatu. Proporsional, rendah hati, seimbang, objectif, tanpa prasangka, chek and rechek, dan rasional. Karena sikap-sikap itulah yang menjadikan seseorang menjadi lebih baik, keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT dan juga humanity-nya terhadap sesama manusia.

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Maa ‘idah 8)

Waallahua’lam bishshawab.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/muhammad-rizqon-stigma-dan-prasangka.htm

Blog EntryApr 17, '11 9:58 PM
for everyone

Baru pertama kali inilah saya berkesempatan mengunjungi kota Manado. Saya berkunjung ke sana dalam rangka memenuhi permintaan lembaga yang konsen dengan konservasi alam dan pelestarian lingkungan. Bertolak pukul 05.00 WIB pagi dari Bandara Soekarno Hatta, tiba di Manado pukul 09.10 WITA.

Saya tidak memiliki referensi mendalam tentang kota Manado. Pengetahuan saya hanya sekilas saja berdasar pengalaman ketika dulu pernah tinggal di kota Ambon dan beberapa kali singgah ke pulau Ternate. Orang banyak mengatakan bahwa di Manado itu banyak godaan karena gadis-gadisnya terkenal cantik dan memikat hati.

Orang sering berkelakar bahwa yang khas dari manado adalah dua hal (selain Bunaken tentunya), yakni bubur Manado dan Bibir Manado. Tentu saja kekhasan yang kedua tersebut, seringkali di konotasikan dengan hal-hal yang berbau nyerempet.

Ketika saya bertemu dengan relasi yang penduduk Manado (sebut saja Roy). Kelakar yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang pernah singgah atau diam di Manado, keluar pula dari mulutnya. Namun nampaknya dia tidak sepenuhnya setuju dengan anekdot tersebut. Dia mengatakan,

“Sebagai orang Manado, saya sebenarnya tersinggung lho dengan anekdot tersebut. Kenapa? Kalau orang mencari “bibir” kan tidak hanya di Manado saja, hampir di semua kota Besar di Indonesia ini pasti ada...”

Roy berbicara cukup serius. Padahal di awalnya boleh jadi sekedar ingin menghibur tamunya dari Jakarta. Belum sempat kami berespon atas ucapannya itu, buru-buru Roy yang tinggal Tomohon itu menambahkan,

“Ini kan seakan-akan kota Manado itu kota yang negatif gitu lho...padahal di tempat lain seperti Kota Jakarta dan Surabaya atau kota lain, lebih parah dari Manado.”

Roy tidak memungkiri bahwa ada sisi kehidupan negatif di Kota Manado. Apalagi kota Manado adalah kota terbuka dan telah dicanangkan sebagai kota pariwisata dunia pada tahun 2010. Menurut literatur, meski heterogin, masyarakat Manado sangat menghargai sikap hidup toleran, rukun, terbuka dan dinamis. Karenanya kota Manado memiliki lingkungan sosial yang relatif kondusif dan dikenal sebagai salah satu kota yang relatif aman di Indonesia. SewaktuIndonesiasedang rawan-rawannya dikarenakan goncangan politik sekitar tahun1999dan berbagai kerusuhan melanda kota-kota di Indonesia. Kota Manado dapat dikatakan relatif aman. Hal itu tercermin dari semboyan masyarakat Manado yaituTorang samua basudarayang artinya "Kita semua bersaudara".

Tipikal masyarakat Manado nampak pula pada diri Roy yang cukup hangat menyambut tamunya dari Jakarta. Ketika mengajak kami makan siang sehabis kunjungan, dia berkata,

“Pak, kita coba makan di tempat lain ya. Masih ikan-ikan juga sih. (Catatan: Bubur Manado sudah dua kali kami coba karena tersaji sebagai menu breakfast di hotel). Tapi yang halal kok!.”

Hari-hari pertama dalam hal mencari santapan, kami sering ditemani Dedy yang muslim. Kami percaya pada Dedy soal pilihan di mana seharusnya makan dan menunya. Melihat karakter lembaga tempat dia bekerja dan interaksinya dengan Dedy, kami cukup yakin bahwa Roy (non muslim) cukup tahu tentang kriteria makanan halal. Mereka berpantang dengan ikan-ikan tertentu karena terancam punah. Mereka pun cukup peduli dengan misi kelestarian dan konservasi. Kami punya asumsi dalam hal makanan dia cukup memahami “saudara”nya dari Jakarta.

Sebuah pelajaran yang bisa kami petik adalah bahwa tidak semua orang bisa bangga dengan sesuatu yang dibanggakan orang lain. Cukuplah orang memahami tetapi tidak bisa dipaksakan untuk menikmati. Bubur Manado adalah makanan yang sehat dan bergizi, tetapi tidak semua orang bisa menikmati bubur Manado. Boleh jadi lebih menyukai bubur ayam Jakarta.

Roy pun yang asli Manado cukup tersinggung dengan anekdot bibir yang dipopulerkan orang, meski off the record (tidak tercantum dalam teks-teks resmi). Ketersinggungan tersebut adalah bukti dari kefitrian manusia yang tidak menyukai hal-hal berbau negatif dan tabu.

Penyimpangan biasanya terjadi karena godaan (provokasi), atau secara ruhaniah tidak terlindungi dengan kesadaran dan komitmennya terhadap nilai-nilai kebaikan. Sementara Roy sudah dibiasakan komitmen dengan misi kelestarian yang dicanangkan lembaganya dan itu cukup berpengaruh dalam kehidupan keseharian.

Waallahua’lam

http://www.eramuslim.com/oase-iman/muhammad-rizqon-antara-bubur-dan-bibir.htm

Blog EntryApr 11, '11 8:04 PM
for everyone


Terpaan arus fitnah saat ini yang cukup deras, membuat seorang ibu bernama Nur diliputi rasa resah, gelisah, dan gamang akan nasib anak-anaknya di hari depan.

“Bi, kayaknya kita mesti membuat rencana dech, anak-anak kita mau di sekolahin dimana kelak. Kondisi lingkungan makin tidak kondusif dengan perkembangan jiwa anak. Jika anak kita kurang pendidikan agamanya, khawatir terjerumus ke pergaulan yang tidak baik...”

Abi yang ditanya mengiyakan dengan perasaan biasa saja, seakan tidak ada kekhawatiran sebagaimana di alami isterinya. Dia sudah bisa menebak keinginan isterinya, yaitu menyekolahkan anak ke sekolah/pesantren Islam terpadu yang akan cukup menyedot keuangan rumah tangga.

Di lain waktu, sang isteri khawatir ketika anaknya sudah mulai suka berkunjung ke warnet. Masalahnya bukan tidak percaya bahwa sang anak hanya akan membuka konten-konten yang baik sesuai petuahnya, akan tetapi sang isteri khawatir dengan pengunjung-pengunjung dewasa yang bisa saja memiliki niat jahat menjerumuskan anak-anak dengan tayangan video asusila atau Narkoba. Demi menjaga kemungkinan buruk, Sang Abi pun pada akhirnya berlangganan internet di rumah agar akses anak ke internet bisa dikontrol dan tidak harus berbaur dengan komunitas yang tidak jelas.

Saat menonton TV pun, seringkali Ibu Nur khawatir dengan tayangan-tayangan yang selalu saja dirasa ada efek negatifnya buat anak. Jika sudah demikian, mulailah dia berteriak:

“Ganti Nak..! Ganti berita saja..!” atau dia mengatakan,”Nak, itu kan tontonan orang dewasa, cari yang lain dech..!”

Terkadang, setelah bolak-balik memindah channel, saking bingungnya karena tidak ada tayangan yang pas, pada akhirnya dia berkata, “Nak, itu ngga bagus! Ayo matikan saja! Sudah ga ada yang bagus!”

Di lingkungan sekitar pun, kondisi real tidak kalah dahsyat dengan kondisi di TV. Pacaran sudah membudaya, di jalan sering berseliweran gadis-gadis dengan rok mini dan tampilan menggoda, banyak anak yang kena Narkoba, banyak gadis-gadis yang hamil di luar nikah, sedikit sekali remaja/orang tua yang sholat lima waktu, sedikit sekali yang bisa baca Qur'an dan...ah rasanya banyak sekali realita yang jauh dari kondisi normatifnya. Wajar rasanya seorang ibu yang menaruh peduli seperti Ibu Nur, bergejolak batinnya, seakan berada di penjara keburukan yang menyesakkan nuraninya.

Adakah harapan di tengah keputusasaan seperti itu? Jika dipikir, sungguh amat berat kondisi dirasa saat ini. Nabi Muhammad SAW dulu menempuh cara hijrah ke lokasi yang kondusif bagi perkembangan dakwah dan memungkinan beliau dan ummatnya berada dalam kondisi yang lebih baik. Apakah keluarga Ibu Nur harus berhijrah pula? Ke mana? Untuk hijrah ke kampung pun bukanlah jaminan bahwa sang anak akan mendapatkan pendidikan yang bagus. Kemaksiyatan sudah menyebar ke penjuru negeri. Dengan era informasi, dominasi pengetahuan tidak hanya berada di kota, tetapi merata sampai ke daerah-daerah. Bahkan boleh jadi mereka yang di kampung lebih tahu kondisi tertentu dibanding masyarakat kota.

Ataukah harus mengirim anak ke pesantren yang mana akses internetnya di batasi atau pihak pesantren melarang anak didik menjalin pertemanan di dunia maya? Ah apakah itu jaminan? Sebagai upaya boleh saja hal itu dijadikan alternatif. Namun bila mengingat anak tetangga yang dulunya di pesantren baik banget namun setelah keluar jadi tidak terkontrol, ibu Nur menjadi gamang . Jadi mesti bagaimana?

***

Musibah tsunami di Jepang cukup memberikan pelajaran baginya. Jepang adalah negara yang cukup expert dalam hal mengantisipasi dampak gempa dan tsunami. Namun toh serangan tsunami pasca gempa dengan skala 8,8 SR tanggal 11 Maret 2011 lalu, mampu memporak porandakan kota Miyagi dan mengancam reaktor nuklir Fukushima. Ribuan korban berjatuhan dan banyak harta benda yang musnah binasa. Jepang yang perkasa ternyata bisa terkena dampak gempa dan tsunami juga...begitulah pikir sebagian orang.

Berita-berita politik dalam negeri pun cukup memberikan pelajaran, siapa sangka bahwa ternyata tokoh-tokoh yang selama ini dikenal superior dan gentlemen, ternyata terjerembab dalam lembah kenistaan.

Hikmah yang bisa dipetik adalah bahwa musibah, kecelakaan, kenistaan, keterjerembaban, kesalahan, kelalaian, kekurangan, dan segala atribut negatif lainnya, adalah KENISCAYAAN bagi manusia karenahakikat manusia adalah penuh dengan kelemahan dan kerapuhan. Hanya dengan pertolongan Allah SWT manusia menjadi kuat dan selamat. Jepang tetaplah lemah, kehendak Allah lah yang bisa menjadikan jepang tetap superior. Politisi dan pejabat publik tetaplah manusia yang lemah dan rapuh. Manakala Allah dilupakan dan syariatnya dilanggar, maka Allah pun tidak lagi memberikan perlindungan-Nya sehingga dia pun terjerembab.

Berkait dengan kegamangan akan nasib anak di masa depan, kita selaku orang tua maupun guru, tetaplah manusia yang lemah dan rapuh.Pemilihan sistem pendidikan adalah upaya yang sifatnya kondisional. Sistem pendidikan dari orang tua adalah sumbernya. Dan jika ditelusur adalah bersumber dari wahyu Ilahi dan teladan nabi sebagai kurikulumnya. Orang tua sebagai guru utama hendaknya berjalan sesuai dengan sumber itu.

Namun jika mereka melupakan Allah, bisa jadi Allah tidak memberikan perlindungan dari terpaan fitnah yang amat deras. Terlibatnya anak dalam pergaulan bebas, anak susah diatur, anak terlibat Narkoba, anak perperilaku buruk, adalah sebagian bukti bahwa perlindungan Allah SWT lepas dari genggaman mereka.

***

suatu ketika Ibu Nur bertemu dengan ibu Nunik dan terjadilah percakapan diantara keduanya,

“Mba, anak-anak disekolahin dimana?” Tanya ibu Nur.

“Anak-anak saya semua sekolah di negeri Mba Nur.”

“Mba Nunik ngga khawatir bahwa pendidikan di negeri itu sangat kurang, gurunya kurang kontrol?”

“Kalau saya sih, pendidikan di mana pun sama saja. Semua akan berpulang ke pendidikan orang tuanya di rumah. Jadi ya kita mesti mengimbanginya. Jika kurang pendidikan Quran, kita ajari anak kita dengan Quran. Jika kurang agamanya, ya kita didik dia agamanya, jika kurang mandiri ya kita latih kemandirian dia di rumah.”

Apa yang dilontarkan ibu Nunik itu adalah sebagian dari penjabaran dari pepatah Al Umm Al Madrasatun (seorang ibu adalah sekolah bagi anaknya). Sangat sedikit ibu yang memiliki pemikiran seperti itu.

Menyekolahkan anak ke sekolah yang bagus adalah salah satu upaya dan boleh-boleh saja. Bahkan jika orang tua memiliki dana lebih, sudah selayaknya mengupayakannya ke sana. Namun fokus dan tumpuan harapan hendaklah tetap dibebankan kepada ibu (orang tua). Dari ibulah lahir generasi yang selamat, terutama bagi ibu yang ikhlas dan bisa memberikan teladan yang baik. Ibu yang berjiwa Ikhlas sangat menyadari dan sadar sepenuhnya bahwa hitam putihnya sang anak adalah dalam genggaman-Nya. Oleh karenanya seorang ibu (orang tua) pantang berhenti berdoa, bermohon, berlindung, dan berharap dibalik ikhtiarnya yang sempurna. Setitik kesombongan dan kelalaian bisa menjerumuskan nasib sang anak menuju kehancuran.Pertanyaan yang relevan, sudah sekuat apakah orang tua dengan tulus memohon perlindungan-Nya?

Ikhlas menolong agama Allah, merendahkan diri dihadapan-Nya dengan doa-doa perlindungan, dan menjadikan Allah SWT sebagai sumber kekuatan, adalah sebagian dari jalan-jalan menuju keselamatan.

Semoga Allah menyelamatkan kita dari musibah dan fitnah yang membinasakan. Semoga Allah menunjukkan jalan agar kita selalu memohon perlindungan-Nya. Wallahua’lam


Mar 24, '11 9:15 AM
for everyone
Category:Other
Jum'at, 28 Januari 2011

Oleh: Muhaimin Iqbal

TIGA TAHUN LALU, ketika saya memutuskan untuk meninggalkan profesi saya di dunia finansial yang lama –bidang yang saya geluti sampai mentog selama 20 tahun lebih– saya berpamitan dengan rekan-rekan kerja di industri baik yang di dalam maupun yang di luar negeri. Salah satu comment yang saya ingat saat itu adalah ucapan mitra saya, executive perusahaan raksasa di Jerman. Begini katanya, “You have a very strange way to enjoy life...” (Kamu ini memiliki cara yang aneh dalam menikmati hidup !).

Lama saya berusaha memahami ucapannya ini, bahkan saya juga sempat ragu apakah dengan meninggalkan karir puncak di dunia finansial dan segala macam fasilitasnya – saya dapat memperoleh kebahagiaan yang baru...?.

Secara tidak langsung, perlahan tetapi pasti...kebahagiaan yang baru itu ternyata memang hadir. Dalam bentuknya yang aneh dan sangat berbeda dengan kebahagiaan yang lama. Saya ingin share di tulisan ini untuk memotivasi rekan-rekan saya yang ingin terjun berusaha – namun masih enggan meninggalkan segala macam fasilitas yang dinikmatinya kini.

Begini antara lain perbedaan kebahagiaan yang lama dengan kebahagiaan yang baru itu:

Kebahagiaan Lama (Milik Para Pekerja dan Eksekutif):

-Ketika mulai bekerja dahulu, hari-hari yang menyenangkan adalah hari-hari menjelang gajian. Sampai ada joke harimau apa yang paling bahagia? , jawabannya adalah ‘hari mau’ gajian. Mengapa hari-hari menjelang gajian kita berbahagia ?, karena penghasilan kita nyaris tidak cukup untuk keperluan sebulan – maka ketika rekening kita terisi kembali dari posisinya yang nyaris kosong – kita menjadi bahagia.

-Kebahagiaan lain adalah ketika kita mau menerima tunjangan hari raya, gaji ke 13, bonus tahunan dan sejenisnya. Ini bisa meng-cover kebutuhan lain yang lebih besar seperti mengisi tabungan, membayar uang muka rumah, mobil dlsb.

-Ketika karir kita terus menanjak dan sampai puncaknya; penghasilan kita sebenarnya tidak lagi habis dikonsumsi dalam satu bulan. Tetapi tetap saja hari mau gajian membuat bahagia karena hari itu uang kita di bank bertambah.

-Yang lebih membahagiaan bagi kalangan eksekutif adalah ketika tutup buku dengan hasil tahunan yang baik, eksekutif akan mendapatkan bonusnya – yang bisa sangat istimewa – bila perusahaan berkinerja baik.

Kebahagiaan Baru (Milik Para Entrepreneur):

-Di awal-awal usaha setiap menjelang akhir bulan adalah waktu yang menegangkan, bisa nggak ya kita memberi gaji para karyawan kita tepat waktu ?. Selepas gajian, tabungan kita di bank tersedot nyaris habis tetapi ada kebahagiaan yang tidak kalah hebatnya dengan yang dialami karyawan yang menerima gaji – yaitu kebahagiaan karena mampu memberi gaji seluruh karyawan di payroll-kita.

-Setelah perusahaan berjalan baik, ketegangan menjelang gajian ini tidak lagi muncul – tetapi kebahagiaan itu tetap ada disana – yaitu bahagia bisa memberi gaji.

-Karena bahagia itu ada disana – ketika rekening kita berkurang – berpindah keorang lain yaitu untuk menggaji para karyawan; maka lama kelamaan ‘hari mau’ gajian ini juga menjadi kebahagiaan rutin tersendiri. Setiap sabtu sore misalnya, saya melihat sekian puluh karyawan yang bekerja di peternakan Jonggol Farm – pulang dengan bahagia ke keluarganya masing-masing - hari itu mereka pulang membawa gaji mingguannya. Ternyata bukan hanya mereka yang berbahagia, saya juga ikut merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena sampai hari itu kita masih dipilih Allah untuk ‘dilewati’ rizkiNya yang hendak dibagikan ke puluhan karyawan tersebut.

-Kebagiaan ini bertambah besar manakala kita mampu memberi tunjangan hari raya atau sejenisnya.

Jadi ternyata ada perbedaan yang mendasar yang terkait dengan uang saja (tentu banyak sekali kebahagiaan lain yang tidak terkait dengan uang sama sekali !) dari sewaktu kita menjadi karyawan atau eksekutif dengan ketika kita terjun menjadi entrepreneur.

Kelompok yang pertama bahagia ketika rekeningnya bertambah dari gaji atau bonus, kelompok yang kedua pun tetap bisa tidak kalah bahagianya ketika rekening berkurang untuk membayar gaji atau THR.

Kebahagiaan ketika memberi inilah rupanya yang mendorong orang terkaya nomor 2 (Bill Gates dengan kekayaan US$ 53 Milyar) dan nomor 3 dunia (Warren Buffet dengan kekayaan US$ 47 Milyar) pertengahan tahun lalu mengajak ratusan orang-orang terkaya Amerika untuk menyumbangkan 50 % hartanya untuk berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Kebahagiaan dengan memberi ternyata tidak hanya milik Umat Islam yang dalam tuntunan agamanya didorong untuk banyak-banyak ‘memberi’ dalam berbagai bentuknya baik yang bersifat wajib seperti membayar zakat, membayar upah pekerja dan sejenisnya ; maupun yang sifatnya sunah seperti infaq untuk kegiatan sosial ,bantuan kemanusiaan dlsb.

Apa yang dilakukan oleh Bill Gates dan Warren Buffet ini juga dapat menjadi pelajaran bagi kita, bahwa ternyata kebahagiaan itu tidak hanya timbul ketika uang terus bertambah banyak – tetapi kebahagiaan juga timbul dari ‘memberikan’ hasil dari jerih payah bertahun-tahun untuk orang lain yang lebih membutuhkan.

Kalau saja orang-orang kaya negeri ini mengikuti anjurannya Bill Gates dan Warren Buffet, korban-korban kelaparan insyaAllah tidak akan terus bermunculan di negeri ini. Lebih jauh lagi kalau saja kita bisa mengikuti prinsip 1/3 seperti yang dicontohkan dalam hadits yang sahih, insyaAllah Allah akan terus menurunkan ‘hujan’ rizki ke kita – bahkan ketika negeri lain dilanda ‘paceklik’ krisis finansial. InsyaAllah. *

Penulis adalah direktur GeraiDinar.com, kolumnis www.hidayatullah.co

Blog EntryMar 21, '11 2:56 PM
for everyone
Kaya dan miskin adalah fenomena sosial yang selalu menjadi topik perbincangan dan perhatian setiap orang.  Kaya atau miskin adalah laksana status yang wajib melekat pada diri setiap orang meskipun secara formal tidak wajib dicantumkan dalam bentuk kartu identitas apapun.  Sesuatu yang lazim, orang  menilai dari apa yang dimiliki secara materi atau kasat mata.  Dan biasanya penghargaan orang dipengaruhi oleh status kekayaan yang dimilikinya itu.

Menilai dan membanding-bandingkan adalah fitrah manusia. Dengan cara itulah manusia belajar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Hal serupa dialami juga oleh anak saya bernama Robbani  (7 tahun).  Suatu ketika dia bertanya kepada saya,

“Abi, kita ini kaya atau miskin?”

“Emangnya kenapa? Kok tiba-tiba tanya begitu?”

“Iya, Bang Farhan (kakak sepupu) itu kan punya mobil, punya komputer, punya macem-macem, berarti dia orang kaya ya, Bi? ”

“Kaya itu kalau kita bermanfaat bagi orang lain, bisa memberi kepada orang lain. Misalnya bersedekah, menolong orang, dan berbuat baik kepada orang. Kebaikan yang kita lakukan itu adalah tanda bahwa kita ini kaya. Punya rumah bagus boleh, tapi lebih bagus lagi jika bermanfaat.  Punya mobil, mobilnya dipakai buat menambah kebaikan dan mempermudah silaturahim. Punya komputer, dipakai buat memudahkan urusan bukan sekedar buat main game. Jadi kaya itu kalau kita banyak memberi manfaat dan kebaikan.”

Diskusi berlanjut dengan membanding-bandingkan apa yang dia miliki. Meski masih kecil, nampaknya Robbani bisa diberi pengertian bahwa kaya itu bukanlah sekedar mengacu dan berhenti kepada hal-hal yang bersifat fisik. Dibalik yang kelihatan, harus ada nilai manfaat yang tidak kelihatan. Terlalu naif rasanya jika kita hanya melihat dari satu sisi saja. Sebagai contoh, Negara kita adalah negara yang secara fisik adalah kaya raya. Potensi sumber daya alamnya sangat luar biasa. Sumber-sumber pajak yang dikumpulkan juga sangat luar biasa. Namun apalah artinya status tersebut jika pada kenyataannya masih banyak rakyat yang hidup menderita dan tidak menikmati kekayaan negara tersebut.  Sungguh ironis, memiliki tetapi tidak menikmati, ada tetapi tidak bermanfaat.

Pemahaman demikian rasanya perlu ditanamkan karena banyak orang terjebak dengan dichotomi kaya dan miskin, lebih dari dichotomi manfaat (maslahat) dan mubazir (mafsadat) atau dichotomi kebaikan dan kemaksiatan. Sangat mungkin bahwa sumber masalah bukanlah kaya atau miskin, tetapi lebih pada ada atau tidaknya dan sedikit atau banyaknya orang yang  mau berbuat manfaat dan kebaikan.  Kekayaan di tangan orang yang culas, tidaklah berarti. Ia akan mencapai manfaat yang optimal, jika dikembalikan kepada orang-orang yang baik dan berilmu.

Sebagai manusia biasa, adakalanya saya juga menilai dan membandingkan kekayaan diri dengan dengan orang lain.  Muatannya adalah muhasabah agar bisa menjadi lebih baik. Ukurannya bukan sekedar terhadap apa yang dimiliki seperti rumah, mobil, tanah, emas, dan lain-lain melainkan kebaikan-kebaikan apa yang telah dihasilkan.

Alangkah bersyukurnya jika termasuk muslim yang rajin sholat fajar, karena disebutkan dalam sebuah hadits bahwa dua rakaat sholat fajar adalah lebih baik dari dunia dan seisinya. Alangkah bersyukurnya jika termasuk muslim yang rajin tilawah Quran, karena berarti telah menginvestasikan sepuluh kebaikan dari setiap huruf yang dibaca. Alangkah bersyukurnya jika rajin sholat berjamaah di masjid, bersedekah setiap hari, membantu orang dalam kesulitan setiap hari, banyak berdzikir, dan lain sebagainya.  

Semua itu Insya Allah menjadi jalan menuju kekayaan, meski kita sendiri tidak tahu berapa nilai kekayaan atau kapitalisasi dari setiap kebaikan tersebut.  Allah yang Maha Tahu dan memiliki hikmah atas disembunyikannya nilai kekayaan itu.  

==

Suatu ketika saya membaca sebuah blog. Disebutkan di situ bahwa blog itu bernilai sekian rupiah. Iseng-iseng karena penasaran saya masuk pada halaman penilaian blog dan menuliskan nama blog pribadi saya. Berapa nilai blog pribadi saya? Meski mungkin dibanding rekan yang lain nilainya masih dibawah, namun saya cukup terkejut juga. Nilanya pada saat itu adalah USD 159,04 Juta. Atau dengan kurs 1 USD=Rp 9.000 setara dengan  Rp 1.431, 36 Milyar.  Artinya jika blog itu ada yang beli, saya akan mendapatkan uang sejumlah itu. Jadi bermimpi, siapa yang mau beli ya?

Saya baru menyadari bahwa tulisan seseorang di blog bisa dikapitalisasi berdasarkan keunikan dari blog yang bersangkutan.  Terlepas apakah penilaian dari tim penilai itu akurat atau tidak, saya mengambil sebuah pelajaran bahwa karya itu memiliki nilai berdasarkan jumlah penerima manfaatnya.

Nah, kebaikan yang kita produksi adalah karya kehidupan. Hikmah dari simulasi penilaian itu adalah teruslah berbuat kebaikan tanpa memikirkan bahwa Anda bisa kaya atau tidak dari kebaikan tersebut.  Secara nominal saya tidak bisa menjamin Anda akan mendapatkan kekayaan berapa, tapi secara instrinsik, Insya Allah Anda akan mendapatkan kekayaan yang sungguh melimpah. Seperti kasus saya, dari kebaikan menulis saja, saya kini mendapatkan kekayaan instrinsik 1,4 trilyun rupiah menurut penilain manusia. Padahal kebaikan yang bisa diproduksi oleh seorang beriman tidaklah sekedar menulis. Banyak hal dan sangat beragam.

Semoga ini menjadi pemacu diri sendiri dan rekan-rekan untuk terus menulis hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Tanpa berpikir apakah nanti bisa dibukukan, diterbitkan, atau menghasilkan uang. Semoga kita digolongkan sebagai orang yang senantiasa berbuat kebaikan. Amin.

Selamat bekerja dan berbuat kebaikan. Wallahua’lam.   

http://www.eramuslim.com/oase-iman/muhammad-rizqon-meraih-kekayaan-hakiki.htm


Blog EntryDec 18, '10 2:39 PM
for everyone
Minggu, 19/12/2010 08:37 WIB | email | print | share

Ketika saya di SD dulu, usai melaksanaan ujian akhir, biasanya sekolah mengadakan kegiatan yang dinamakan class meeting, yaitu kompetisi olahraga dan seni antar kelas, atau school meeting, yaitu kompetisi olahraga dan seni antar sekolah. Kegiatan itu dilangsungkan untuk mengisi jeda menunggu hasil penilaian kegiatan belajar yang akan dituangkan dalam bentuk raport.

Beragam bentuk olah raga dan seni dilombakan. Ada lomba melukis, pidato, membuat cerpen, dan memasak. Untuk olahraga, ada lomba balap karung, tarik tambang, atau balap gendong yang semuanya bersifat menghibur, dan ada juga olahraga murni yang bersifat kompetitif seperti atletik, sepak bola, volley, tenis meja, catur, atau badminton.

Saya ketika itu didaulat mengikuti salah satu cabang olahraga pada school meeting yaitu tenis meja. Kebetulan saya waktu itu, termasuk yang suka dan sering bermain tenis meja saat di rumah. Jadi ketika guru atau teman menunjuk saya, maka saya tidak berkeberatan mengikutinya.

Pada hari perlombaan/pertandingan, bersama teman-teman perwakilan sekolah, kami bertolak ke SD lain –yang bertindak sebagai tuan rumah, dengan bersepeda. Alat transportasi sekolah waktu itu yang lazim adalah sepeda. Sepeda motor saat itu masih menjadi barang mahal di kampung. Semua murid, jika tidak jalan kaki ke sekolah ya naik sepeda. Tidak ada alternatif lain. Bahkan guru-guru kami yang tinggal jauh pun seperti Pak Kastolany dan Pak Helmi Arif yang berjarak sekitar 10 Km di kecamatan lain, menggunakan sepeda kumbang untuk datang ke sekolah. Demikian juga untuk pulangnya.

Di SD lain itu kami pun berkompetisi. Sejak awal kami tidak ditarget harus menang karena yang terpenting saat itu adalah menumbuhkan semangat kompetisi positif dan sportivitas. Sekolah bisa mengirimkan utusan pun sudah bersyukur. Namun tentu saja tidak menafikan harapan untuk bisa memenangkan lomba karena jika sekolah kami meraih juara tentu akan menjadi kebanggaan sekolah. Dan ini menjadi alat pemacu agar sekolah kami bisa terus mempertahankan supremasinya.

Di arena school meeting  itu saya menunai kekalahan di babak penyisihan. Namun sama sekali tidak tergurat rasa kecewa. Pak Helmi Arif yang mendampingi saya waktu itu juga tidak menunjukkan kekecewaan. Justru telah dia bangga karena saya bisa berpartisipasi dan selama pertandingan telah menunjukkan sikap yang sportif.

Seusai pertandingan, kami pulang ke rumah masing-masing. Karena pulangnya terlambat dibanding hari biasanya, saya pun mendapat pertanyaan dari orang tua dan kakak :'dari manakah gerangan’. Saya -yang tidak melaporkan kegiatan itu ke orang tua atau kakak sebelumnya- menjawab bahwa saya baru pulang dari school meeting yang diadakan di SD tetangga.

Orang tua berespon biasa saja. Cukup merasa bersyukur bahwa saya tidak ke tempat ‘yang bukan-bukan’. Namun kakak perempuan saya yang waktu itu sekolah di PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) agak kritis bertanya ke saya,

“Lha kamu ikut lombanya ga?”

“Ikut.”

“Ya bagus tho, kenapa kok ga bilang-bilang sebelumnya?”

“Ya itu kan acara biasa, Mba. ”

“Ya meskipun acara biasa, tapi ikutnya kamu ke pertandingan itu sudah bagus. Bukan soal kalah menangnya, tetapi itu melatih keberanian dan kejujuran (sportivitas). Mba ya ikut senang...syukur mendapat juara ya lebih senang lagi. Itu bisa meningkatkan kepercayaan diri kamu.”

Di luar dugaan, kakak saya ternyata sangat senang saya mengikuti pertandingan meski tidak menunai kemenangan.

---

Saat ini masyarakat indonesia berada dalam euforia sepak bola. Prestasi Tim Nasional dulu sering menunai cacian karena sering tampil tidak memuaskan. Namun kini mereka mulai menunjukkan prestasi yang membanggakan setelah medatangkan beberapa pemain asing yang dinaturalisasi.

Tiket laga semifinal pertama terjual habis bahkan banyak orang yang kecewa karena tidak bisa mendapatkan tiket. Kepala negara beserta keluarga dan pejabat turut memberikan dukungan dengan menonton langsung laga tersebut.

Untuk tiket laga semifinal kedua, ribuan orang berdesak-desakan antre untuk mendapatkan KUPON pembelian tiket di Stadion Gelora Bung Karno. Dipastikan penjualan tiket laga leg kedua ini bakal habis dan bakal menunai kekecewaan bagi yang tidak mendapatkan tiket. Pada laga leg kedua ini pun, kepala negara beserta rombongan berkenan memberi dukungan kepada Tim Nasional dengan memborong 225 tiket VVIP.

Apa makna dibalik euforia sepak bola nasional ini? Apa karena prestasi Timnas yang bagus dan mengundang pujian ataukah masyarakat yang mulai jenuh dengan berita-berita politik?

Boleh jadi benar bahwa masyarakat sudah lama merindukan pemain-pemain berkualitas di dunia persebakbolaan. Dan kini sepertinya harapan itu mulai berkibar setelah Timnas menunjukkan prestasi yang gemilang di Piala AFF*), terlebih ditengah kondisi politik yang carut marut yang hampir memusnahkan segala harapan yang tersisa.

Kenapa mesti pada sepak bola bukan kepada yang lain? Karena permainan sepak bola adalah permainan yang dikenal luas menunjukkan keterbukaan strategi, kekompakan dan sportivitas.

Bagi saya, euforia itu sebenarnya bermakna bahwa masyarakat kita sebenarnya merindukan kekompakkan semua elemen di negeri ini guna membangun bangsa yang dilandasi kejujuran dan keterusterangan. Selama ini boleh jadi masyarakat bosan dengan permainan politik yang bisa diduga arah penyelesaiannya. Masalah dibiarkan menggantung, mengambang, dan membiarkan waktu untuk menyelesaikannya kemudian.  Elemen politik saling berdebat bukan dalam rangka penyelesaian masalah namun hanya menghusung ego masing-masing. Diibaratkan dengan sepak bola, model sepak bola yang begini adalah sepak bola yang timnya mengalami perpecahan internal dan sibuk dengan percekcokan. Akibatnya disetiap laga, alih-alih menciptakan goal, tim ini selalu menunai kekalahan dan selalu dibantai habis oleh lawan.

Prestasi yang dilandasi kejujuran adalah harapan setiap orang. Asal kejujuran bisa dipertahankan meski tidak harus berprestasi, adalah lebih baik dibanding harus bermain curang dan menipu lawan. keberanian untuk jujur bisa menjadi prestasi seperti harapan kakak terhadap saya ketika masa kecil dulu. 

Semoga euforia ini bukan sekedar kegembiraan, namun euforia yang membuka kesadaran. Terutama bagi pemangku amanah di negeri ini untuk berani jujur dan terbuka dihadapan rakyatnya. Wallahua'lam. (rizqon_ak@yahoo.com).


Catatan: *) Di naskah aslinya tertulis AAF, yang benar AFF (ASEAN Football Federation)

http://www.eramuslim.com/oase-iman/muhammad-rizqon-mengharap-keberanian-dan-kejujuran.htm

Blog EntryDec 9, '10 8:08 PM
for everyone

Kamis, 09/12/2010 14:56 WIB

Sudah menjadi agenda rutin, sepekan sekali Slamet menghadiri taklim pekanan yang diadakan di sebuah kawasan bernama Antara. Dia adalah salah seorang yang masih berkomitmen menghadiri taklim tersebut, ditengah peserta taklim lainnya yang sudah kehilangan gairah dan lebih memilih sibuk dengan aktivitas dunia.

Setiap pekan Slamet menempuh perjalanan dari Setu, Jakarta Timur ke Antara. Jalanan yang dilalui setiap pekannya adalah jalanan yang sama. Jarak tempuhnya sama. Dan rentang waktu kejadiannnya pun relatif sama, yaitu antara pukul 07.30 s.d 8.30 pagi. Rutinitas pekanan di perjalanan menuju majelis taklim itu ia hadapi relatif biasa-biasa saja, tidak ada sesuatu yang istimewa.

Namun pekan itu, ia bercerita bahwa ia menjumpai pemandangan unik di tengah perjalanan. Betul-betul unik pikirnya, terlebih jika dikaitkan dengan kondisi masyarakat sekarang yang mayoritas mengalami sakit. Bukan sakit jasmani melainkan sakit ruhani (psikis).

Jamak diketahui, bahwa lalu lintas di seputar pasar Pondok Gede adalah lalu lintas yang padat. Konvoi mobil atau sepeda motor yang terjebak macet atau terpaksa harus berjalan pelan karena padatnya kendaraan dan orang, sudah menjadi pemandangan yang tipikal dan lazim. Setiap orang boleh jadi tidak begitu saling memperhatikan satu sama lain. Mereka lebih memperhatikan tentang bagaimana harus menyebrang, bagaimana harus mengendalikan sepeda motornya, bagaimana menerobos di tengah kepadatan yang mengular, dan bagaimana diri harus berkonsentrasi agar sepeda motor atau mobil yang dikendarai tidak bersinggungan satu dengan lainnya yang berefek mencelakai orang atau kendaraan lain.

Slamet di pagi hari itu, juga mengalami hal yang serupa. Ia begitu tenang penuh konsentrasi di atas sepeda motor yang dikendarainya. Tatkala banyak orang menyebrang, ia harus pelan-pelan untuk memberi kesempatan kepada mereka. Tatkala banyak orang, becak, atau gerobak yang tiba-tiba berjalan dari arah berlawanan, ia pun harus mengatur posisi memberi kesempatan kepada mereka untuk bisa lewat. Tidak sedikit anak-anak kecil yang berada di tengah keramaian pasar mengikut ibu atau bapaknya yang sedang memburu barang-barang kebutuhan.

Beberapa menit Slamet terjebak dalam situasi tegang seperti itu. Ketika baru saja meninggalkan situasi pasar yang menegangkan, ia merasa bebas dan lega. Jalanan sudah mulai lancar dan roda sepeda motor pun bisa dipacu lebih cepat. Gigi sudah bisa dioper ke gigi 3. Jalan mulai senggang dan rasa nyaman pun mulai menghinggap. Di depan Slamet ada beberapa sepeda motor yang juga mulai memacu kecepatannya.

Sesuatu yang mengejutkan terjadi. Tiba-tiba dari arah belakang, ada pengendara sepeda motor yang menyalip dan terkesan mengejar sesuatu di depan. Ada apakah gerangan? Siapa yang dikejar? Adakah tadi ada insiden yang memicu ketegangan namun belum terselesaikan?

Sambil memacu kecepatan motornya secara normal, Slamet memperhatikan pengendara sepeda motor itu terlihat memepet pengendara sepeda motor lain yang berboncengan dengan seorang perempuan. Dia menengokan kepala dan meneriakkan sesuatu. Kontan saja, sepeda motor yang dipepet tadi jadi memelankan lajunya. Sementara Slamet jadi lebih dekat bisa menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam kondisi berjalan pelan memepet tersebut, sang pengendara misterius itu masih meneriakkan sesuatu setelah membuka kaca helmnya. Boleh jadi sepasang insan di atas roda dua tersebut heran dan penasaran, apa sih maksud laki-laki tersebut dengan teriakannya. Tidak paham dengan apa yang diucapkan, maka makin pelanlah laju sepeda motor sepasang insan demi mendengar apa yang diucapkannya.

Pengendara misterius itu memacu agak ke depan dan memberi isyarat. Tangan kirinya diacungkan menunjuk perempuan yang membonceng, kemudian tangan kirinya itu ditunjukkan pula ke arah pinggulnya sendiri berkali-kali. Ia pun kembali berteriak.

“Ini!...ini!..ini kamu kelihatan!..ini kamu kelihatan!”

Demi mendengar dan melihat bahasa isyarat itu pahamlah si perempuan pembonceng sepeda motor itu. Bergegas ia, sambil tersimpul malu, memperbaiki posisi kaosnya yang ternyata secara tidak sadar menaik dan menjadikan aurat dan barang pribadinya terlihat begitu jelas. Nampaknya beberapa jenak ia mengalami kesulitan menutup barang yang ditunjuk-tunjuk lelaki misterius tadi. Karena memang sangat terbatas. Very limited. Terpaksa ia harus menahan malu terhadap orang-orang yang memperhatikannya.

Tanpa melihat kembali apa yang terjadi, si pengendara misterius itu pun segera memacu sepeda motornya lebih cepat. Meninggalkan arena setelah pesannya tersampaikan.

“Oh itu tho rupanya! Astaghfirullah”, bisik hati Slamet yang tepat berada di belakang perempuan itu. Ia merasa bersalah dan mentertawakan diri sendiri demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Betul, swear, ia tidak melihat pemandangan unik di perempuan pembonceng itu. Waallahu a’lam, boleh jadi matanya dihindarkan dari pemandangan buruk itu. Namun ia tidak bisa menahan geli karena sangat mungkin ia diduga sebagai ‘pihak yang menikmati’ karena ia tidak mengingatkan seperti yang dilakukan oleh pengendara misterius tadi.

Terlepas dari rasa bersalahnya karena Slamet merasa ‘patut diduga’ menikmati pemandangan tersebut, ia mengambil pelajaran penting dari sikap pengendara misterius tadi. Sedikit sekali rasanya orang mau bersikap seperti itu. Bergegas mengingatkan untuk hal yang boleh jadi dipandang sepele. Terlebih ditengah arus kemaksiyatan (perzinahan) yang terekspos habis di era keterbukaan informasi seperti saat ini.

Survey BKKBN yang menyimpulkan bahwa 51% remaja Jabodetabek sudah tidak perawan, adalah realistik jika saya bandingkan dengan maraknya kasus perzinahan di lingkungan sekitar. Belum ditambah cerita-cerita teman dan berita-berita media yang sepertinya membenarkan hasil survey tersebut.

Seorang teman yang sudah kenyang menyambangi gedung-gedung perkantoran di Jakarta mengatakan, “Dalam pengamatan saya, hampir semua gedung di Jakarta tidaklah bersih, saya pastikan ada kemaksiyatan di dalamnya.” Seorang teman yang lain bercerita ketika ia berada di atas angkot, naik beberapa anak perempuan berseragam sekolah. Dari perbincangan yang ia dengar, meski tidak secara vulgar diungkapkan, ia bisa memahami bahwa mereka tengah membincangkan “hasil jualan” mereka.

Seorang teman yang lain juga menceritakan ketika ada rombongan kyai naik bis umum dan mereka berdiri, ada seorang perempuan di dalam yang duduk agak jauh, selalu melempar senyum pada satu orang kyai. Ketika sang kyai itu bertemu pandang, perempuan itu selalu mengangguk dan melempar senyum. Demikian hal itu terjadi berulang kali selama dalam perjalanan. Ketika rombongan kyai itu turun, dan perempuan itu turun, sang kyai dimaksud merasa penasaran dan bertanya,

“Kamu ini siapa ya, kok dari tadi senyam-senyum sama saya...”

Sang kyai bertanya masih tetap ditemani kyai lainnya yang juga mendengarkannya.

“Ah masa pak kyai ngga ingat sama saya...” Perempuan itu tetap tersenyum sambil kemudian mengatakan, “Pak kyai kan pernah beberapa kali memakai saya?”. Gerr, kyai lain yang mendengar hal itu pun tertawa spontan dan keras. Tidak ada perasaan terkejut, tidak ada kata marah, tidak ada kata mengingatkan. Sepertinya hal itu adalah hal yang biasa dan wajar terjadi. Sebagai bahan lucuan dan intermezo. Naudzubillah...

Berita-berita di media pun makin vulgar mengungkap praktek yang zaman kini sepertinya dianggap sebagai hal yang wajar dan natural. Padahal pada zaman Nabi SAW sebagai dosa dan musibah besar. Ummat Islam kini makin berabad jarak. Tidak hanya dari fisik pribadi rasul juga dari kepribadian beliau.

Nampaknya kita mesti berkaca kepada pengendara misterius yang bergegas memberi peringatan kepada perempuan yang berpakaian tidak pantas di atas, yang memakai busana dengan kuantitas limited, sehingga auratnya pun terumbar. Apa yang dilakukannya adalah sebentuk “amar ma’ruf nahi mungkar” yang mulai banyak ditinggalkan, bahkan oleh orang-orang yang sejatinya memiliki kuasa untuk melakukannya. Kita prihatin karena para penyeru kebaikan dan pencegah kemungkaran di negeri ini sepertinya kurang mendapat tempat. Alih-alih dianggap sebagai angin lalu, bahkan mereka bisa dipenjarakan dengan pasal yang bisa direkayasa. Tidaklah heran jika hari demi hari yang kita dapati adalah musibah, musibah dan musibah.

Sungguh, makin banyak saja musibah-musibah yang terjadi. Harapan kita, musibah itu hanya menimpa kepada mereka yang zalim (berdosa) saja. Namun demikian Allah SWT memperingatkan agar kita waspada terhadap musibah yang tidak hanya menimpa kepada orang-orang yang berbuat dosa (zalim) tetapi juga menimpa kepada orang yang beriman di antara kaum. Karena musibah yang ditimpakan adalah musibah kolektif. (QS An Anfaal 8:25). Oleh sebab tidak adanya kewajiban yang seharusnya ditunaikan, yaitu amar ma’ruf nahi mungkar.

Semoga Allah SWT memberi petunjuk kepada kita sehingga kita termasuk orang yang berusaha menegakkan perintah-Nya. Semampu yang kita bisa. Wallahua'lam. (rizqon_ak@yahoo.com)

http://www.eramuslim.com/oase-iman/muhammad-rizqon-semampu-yang-kita-bisa.htm

Blog EntryAug 23, '10 3:46 AM
for everyone

Senin, 23/08/2010 13:46 WIB

Dua rangkaian acara bertemakan Al Quran, telah mengisi hari-hari saya di sepuluh pertama Bulan Suci Ramadhan tahun ini. Acara pertama adalah bedah buku berjudul “Berbagi Pengalaman Menjadi Hafidz Al Qur’an” yang dilangsungkan pada hari Ahad dan acara kedua adalah mendengarkan lantunan bacaan para penghafal Al Qur’an (Tasmi’) bertemakan “Sehari Bersama Al Qur’an” yang dilangsungkan hari Selasa, bertepatan dengan peringatan kemerdekaan Indonesia ke-65 lalu.

Acara tersebut membawa saya pada kenangan ketika dulu pertama kali berinteraksi dengan Al Quran di kampus. Semangat untuk memperbaiki bacaan Al Quran dan menghafalnya demikian menggumpal dan meluap-luap. Kursus singkat memperbagus membaca Al Quran (Tahsin) yang digelar setiap Ramadhan oleh Organisasi Masjid Kampus, selalu saya ikuti. Halaqoh Quran sebagai menjadi wadah yang cukup membantu untuk memperbagus kualitas bacaan dan meningkatkan hafalan Al Quran pun saya hadiri dengan rajin. Hingga akhirnya, Alhamdulillah, saya bisa membaca Al Quran dengan lancar dan mampu menghafalkan beberapa bagian (kecil) dari Al Quran.

Kini saya merasakan, rentang waktu yang cukup panjang berlalu begitu saja. Sejak penempatan kerja pasca kuliah, kemudian berpindah-pindah tugas dari daerah satu ke daerah lain hingga terdampar kembali ke Jakarta ini, saya tidak pernah lagi belajar dengan cara langsung kepada orang yang mendengar dan memperbaiki (men-talaqqi) bacaan Al Quran.

Dalam forum yang mulia itu, saya diingatkan bahwa ternyata saya tidak boleh cukup puas dengan bacaan yang sudah saya miliki. Jika selama ini tidak pernah di-talaqqi oleh orang yang kompeten (bersanad kepada bacaan Rasulullah Saw), boleh jadi masih banyak bacaan Al Quran saya yang salah. Saya pun mengakui hal itu dan betapa sulit meluangkan waktu untuk khusus belajar baca Al quran kepada Ahlinya. Di tengah kesadaran yang muncul perlahan-lahan dari hati terdalam, saya membatin, Ya Allah masih bisakah saya belajar Al Quran secara benar kepada ahlinya sebagaimana Rasulullah Saw berguru dihadapan Jibril? Saat ini saya sedang sibuk-sibuknya berpacu dengan tuntutan kehidupan dunia tidak seperti dulu ketika lajang atau masih kuliah. Dan saat ini adalah saat-saat dimana himpitan ekonomi begitu menghebat dan semua orang berfokus ke arah sana. Masih bisakah?

Masih bisa dan Tidak ada kata terlambat. Demikian saya menegaskan pada diri sendiri setelah mendengar kisah-kisah para penghafal Al Quran yang luar biasa. Mereka yang sudah lanjut pun mampu belajar dan memperbaiki bacaan Al Quran, dan sebagian mereka berhasil menjadi penghafal Al Quran. Apalagi yang lebih muda seperti saya. Rangkaian testimoni dalam acara itu menegaskan bahwa ternyata Al Quran mudah dipelajari oleh siapa saja, termasuk mereka yang lanjut, yang sibuk, atau yang awam sama sekali. Al Quran hanya sulit dipelajari oleh mereka yang belum bisa meninggalkan paradigma bahwa belajar Al Quran itu susah, tidak ada waktu atau sibuk, atau merasa terlambat belajar Al Quran. Mereka yang pesimis boleh jadi akan berkata, “Hari gene baru belajar Al Quran, terlambat kalee!”

***

Entah kenapa, dalam momen itu saya selalu terbayang dengan bocah-bocah palestina yang meskipun lemah secara fisik, tetapi menjadi target penyerbuan tentara Zionis Israel. Tentara Zionis itu ibarat tentara fir’aun yang khawatir dengan orang yang akan menumbangkan kekuasaannya, lantas membunuhi setiap bayi laki-laki yang lahir di penjuru negeri. Bahkan bocah-bocah itu menjadi alasan mereka untuk bertindak secara membabi buta karena mereka tidak mampu mengidentifikasi sasaran satu persatu, jiwa per jiwa. Bocah-bocah yang diburu itu tentu memiliki hal yang sangat luar biasa. Siapa mereka itu? Mereka adalah para penghafal (hafidz) Al Quran yang ditaksir berjumlah ribuan dan boleh jadi akan selalu bertambah setiap tahun. Nuansa jihad dan kerasnya hidup, mengajarkan mereka untuk tidak meninggalkan bahkan justru menjadikannya sebagai kekuatan dalam rangka menghadapi ujian sehebat apapun, yaitu Al Quran.

Subhanallah. Rasanya saya tidak perlu menimbang-nimbang tentang uraian pentingnya Al Quran dan mempelajarinya sebagaimana diungkap panjang lebar oleh pembicara di forum itu. Cukuplah respon dan tindakan tentara zionis itu menjadi bukti bahwa menjadi Ahlul Quran (pencinta Al Quran) adalah hal yang sangat dibenci oleh mereka. Dan tentu saja, hal yang dibenci mereka adalah sesuatu yang SANGAT LUAR BIASA. Ya, Umat Islam akan kuat dan memiliki izzah dihadapan musuh Allah SWT jika menjadikan Al Quran sebagai mutiara dan permata kehidupan, referensi pemikiran dan tindakan, kesenangan, obat, penghibur dikala susah, penstabil jiwa manakala ditimpa mihnah, bahan kajian yang tidak pernah usang, pelepas dahaga ilmu, dan manfaat lain yang luar biasa.

Terima kasih ya Allah saya diingatkan kembali dengan pentingnya Al Quran setelah sekian lama tidak menyibukinya. Bimbinglah hamba-Mu ini agar menjadi Ahlul Quran. Amin. Waallahua'lam Bishshawaab. (rizqon_ak@yahoo.com)

http://www.eramuslim.com/oase-iman/muhammad-rizqon-mutiara-kehidupan-bernama-al-qur-an.htm

Blog EntryAug 22, '10 11:24 PM
for everyone
Selasa, 10/08/2010 05:59 WIB | email | print | share

Hujan teringatkan aku, Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu, Saat mimpi masih indah bersamamu

Terbayang satu wajah, Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah, Penuh dengan kehangatan
Kau ibu Oh ibu

Allah izinkanlah aku, Bahagiakan dia
Meski dia telah jauh, Biarkanlah aku
Berarti untuk dirinya, oh ibu oh ibu kau ibu

Terbayang satu wajah, Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah, Penuh dengan kehangatan
Kau ibu

Terbayang satu wajah. Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah, Penuh dengan kehangatan
Kau ibu oh ibu kau ibu, oh ibu oh ibu

Hujan teringatkan aku, Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu, Saat mimpi masih indah bersamamu
Kau ibu kau ibu kau ibu

(Album : Semesta Bertasbih, Munsyid : Opick Feat Amanda)

Apa dan siapa yang teringat oleh Anda menjelang datangnya Ramadhan tahun ini? Sangat mungkin dan boleh jadi Anda mengingat kesalahan dan dosa kepada rekan, saudara, sejawat, mitra, kerabat atau keluarga dan Anda berharap maaf dari mereka. SMS yang berseliweran di server operator menjelang Ramadhan ini saya pastikan sebagian besar berisi permintaan maaf dan harapan agar bisa menunaikan Ramadhan dengan hati bersih dan beroleh ketaqwaan. Pesan singkat menjadi media yang cukup efektif menyambungkan hati meski tidak seindah dan sesempurna jika dilakukan dengan silaturahim langsung. Setidaknya, hal itu adalah lebih baik dibanding tidak melakukan hubungan sama sekali dan hal itu bisa dimaklumi karena kendala untuk bertemu tidak hanya berupa jarak namun juga kesibukan.  

Teringatkah Anda dengan satu wajah menjelang Ramadhan tahun ini? Satu wajah dan hati yang teringat di hati saya menjelang Ramadhan tahun ini adalah wajah dan hati seorang ibu. Saya pikir, dialah yang paling pantas mendapatkan perhatian kita setiap saat, termasuk menjelang Ramadhan ini. Kenapa?

Beberapa hari sebelum hari ini saya mendengar tausiyah dan motivasi lewat media on line, utamanya berkaitan dengan kesuksesan seseorang secara duniawi. Sebagian besar orang mengandalkan kesuksesan dari faktor yang kelihatan, seperti bakat, kepandaian, interpersonal skill, kecerdasan, dan lain-lain. Sedikit sekali orang menyadari ada faktor yang diluar perhitungan yang ternyata sangat berperan bagi keberhasilan seseorang menapaki karier atau perjalanan bisnis. Biasanya orang akan sadar ketika semua jalan (menuju keberhasilan) mengalami kebuntuan, dan ia diingatkan dengan seorang figur yang sering dilupakannya. Yakni figur seorang Ibu.

Menurut hasil survey (menurut tausiyah tersebut), orang-orang yang berhasil secara duniawi dan mereka tetap mempertahankan reputasi sebagai tokoh teladan (menjaga integritasnya), adalah mereka memiliki hubungan yang positif dengan ibunya. Sebaliknya, mereka yang tidak berhasil atau berhasil dalam makna duniawi namun mengorbankan reputasinya (contoh gampangnya adalah pejabat yang korup atau arogan), adalah mereka yang memiliki hubungan kurang positif dengan ibunya.

Subhanallah, mendengar tausiyah itu saya merasa diingatkan dan saya perlu mencamkan dalam-dalam, bahwa ternyata peran seorang ibu bagi keberhasilan seorang anak, sungguh-sungguh luar biasa. Sekarang kita bisa bertanya kepada diri kita masing-masing manakala kita sering kandas dalam berupaya atau buntu dalam menemukan jalan keluar: Adakah yang salah dengan bakti kita terhadap seorang ibu?

Sungguh beruntung jika Anda saat ini memiliki seorang ibu (yang masih hidup). Segeralah bersimpuh dihadapannya, mohonlah maaf, dan perbaikilah hubungan yang selama ini kurang serasi. Anda akan merasakan bedanya. Lantas bagaimana jika sang ibu sudah wafat? Tidaklah perlu berkecil hati. Berbakti kepada seorang ibu adalah tidak terbatas pada saat beliau masih hidup saja. Memperbanyak doa pengampunan, bersedekah, mempergauli kerabatnya, menyantuni orang-orang yang dicintainya, menunaikan amanahnya, dan menjaga diri agar tetap dalam hidayah-Nya adalah juga termasuk berbakti kepada beliau. Segala hal yang mendekatkan diri kepada Allah dan mendekatkan kita kepada kesalehan adalah wujud kebaktian kita kepada ibu. Bukankah semua itu yang menjadikan beliau bahagia? Bahkan lebih bahagia dari limpahan harta sekalipun. Apalagi yang berasal dari jalan yang diragukan.

Kini dihadapan kita terbentang sebuah bulan. Bulan Ramadhan adalah bulan taubat dan bulan memperbanyak amal shaleh. Saya sangat menyakini bahwa keberhasilan kita dalam menjalani Ramadhan berkorelasi positif juga dengan kebaktian kepada seorang ibu. Kerberhasilan kita dalam menjalani Ramadhan adalah keberhasilan HAKIKI yang diharapkan beliau. Oleh karenanya jangan lupakan dia. Persembahkan kebaktian dengan sebaik-baiknya dan panjatkan untuknya doa-doa terbaik kita.

Semoga di bulan yang penuh berkah ini kita bisa mencanangkan untuk tetap berbakti kepada ibu dengan berusaha meraih taqwa dan keridhoan-Nya. Amin. Wallahua’lam bishshawab (rizqon_ak@eramuslim.com).

Note: Titip rindu buat ibu yang tidak sempat kutatap wajahnya. Ya Allah pertemukan kami kelak. Amin. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afihi wa’fu anha.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/muhammad-rizqon-satu-rindu.htm

Blog EntryAug 1, '10 9:00 PM
for everyone
Sabtu, 31/07/2010 08:09 WIB | email | print | share

Kesulitan hidup yang menghimpit, sering menjadikan hati terasa sempit. Dalam kondisi hati yang sempit seperti itu, alternatif solusi yang biasanya muncul adalah mengerucut pada hal-hal yang bersifat materialis dan mengabaikan hal-hal bersifat spiritualis. Faktor keuangan menjadi alasan yang mengemuka, sedangkan faktor keimanan dan kedekatan kepada Allah SWT menjadi faktor yang kurang dominan.

Pikiran orang kebanyakan, uang adalah penghalang mental (mental block) dan sedikit sekali orang membebaskan diri dari faktor uang dalam mencapai keinginan atau tujuan tertentu. Orang yang membebaskan faktor uang, disamping dianggap sebagai tidak realistis, mereka juga dipastikan tersingkir dari percaturan hidup yang bernuansa materialisme, baik di bidang ekonomi atau politik.

Namun apakah semuanya berlaku demikian? Ternyata tidak. Suatu hari di Bandung, saya berjumpa seorang sahabat yang unik. Dia begitu yakin akan kekuasaan dan kemahabesaran Allah. Uang memang diakuinya sebagai SALAH SATU cara mencapai tujuan, bukan sebagai cara UTAMA atau DOMINAN. Ia menggarisbawahi bahwa kita jangan sampai terbelenggu olehnya, terjebak olehnya, sehingga kita menjadikan dia sebagai Tuhan. Bagaimanapun, semua keberhasilan atau tercapainya tujuan itu diperoleh atas IZIN ALLAH.

Satu kekuatan yang lebih patut dijadikan sandaran utama kehidupan, yang dengan menyakininya maka semua penghalang-penghalang dalam kehidupan menjadi tidak begitu bernilai, adalah Allah SWT, yang dengan kekuasaan-Nya mampu mewujudkan apa saja yang dikehendak-Nya (KUN FAYAKUN).

***

Suatu ketika saya bertamu ke seorang sahabat yang menginap di hotel karena sedang mengikuti pelatihan. Saya diajak ke restoran hotel, lalu ia menawarkan saya minuman/makanan. Kami pun mengambil daftar menu yang terhidang di meja.

Ia berujar kepada saya sambil membaca daftar menu, “Pak, silahkan mau minum/makan apa.” Saya yang mengetahui kondisi finansial sahabat saya itu, otomatis memilih-milih menu yang ringan dan tidak memberatkan dirinya.

Namun di luar dugaan ia mengatakan, “Pak, lihat sisi kirinya aja. Abaikan sisi kanannya.”
Kesanya dia mencoba bercanda dengan harga didaftar menu yang mahal-mahal (yang tercantum disisi kanan daftar). Saya diminta fokus kepada menu bukan kepada harga. Kami pun tersenyum dan tertawa kecil.

Dia lantas bercerita tentang penghalang mental sebagaimana saya ungkap di atas. Dia kini berusaha menjadi orang yang “Bebas Keuangan”, yang berarti berusaha membebaskan faktor uang ketika ia berkeinginan atau ingin meraih tujuan tertentu. Dan ia bertutur banyak hal yang ia alami ternyata bisa dicapai tanpa harus serba uang. Subhanallah.

***

Kini saya memiliki dua makna tentang bebas keuangan. Pertama, orang yang selalu tercukupi kebutuhan finansialnya karena ia memiliki banyak investasi, baik berupa kepemilikan saham, obligasi, emas, deposito, harta produktif, bisnis pribadi, dan lain-lain. Orang type ini adalah orang kaya, dan dengan perangkat investasinya kekayaannya selalu bertambah.

Kedua, adalah orang biasa, bahkan tidak memiliki kekayaan yang berarti. Tetapi ia memiliki investasi amal kebaikan yang luar biasa. Atau ia memiliki kekayaan, tetapi ia hanya mengambil seperlunya untuk dirinya, sisanya diinfaqkan di jalan Allah SWT. Ajaibnya, jika ia memiliki kebutuhan akan uang, ada saja jalan bagi dirinya untuk mendapatkannya. Dia tidak memiliki jaminan aset tetapi ia memiliki jaminan amal sholeh dan janji Allah SWT yang akan memudahkan urusan hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. (QS Ath Thalaaq 65: 3-4).

Sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat adalah generasi yang bebas keuangan. Rasulullah SAW tiada pernah menyimpan harta dalam rumahnya. Para sahabat utama, meskipun ia adalah pengusaha kaya, adalah yang paling ringan sedekahnya.

Hikmah yang bisa kita ambil, kita memang tidak menafikan harta dalam kehidupan di dunia ini. Ia boleh diimpikan dan dikejar. Bahkan mayoritas dari 10 sahabat yang dijamin Allah masuk surga adalah sahabat yang kaya.

Hanya saja persepsi kita boleh jadi tidak seperti mereka, dan ini yang perlu dirubah. Harta adalah sarana bukan tujuan. Harta bukanlah untuk ditimbun tanpa manfaat atau dimubazirkan. Harta harus dioptimalkan sebagai sarana (leverage) untuk beramal kebaikan yang lebih sempurna.

Hal ini selaras dengan firman Allah SWT: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al Qashash 28:77).

Wallahua'lamu bishshawaab (rizqon_ak@eramuslim.com)

http://www.eramuslim.com/oase-iman/muhammad-rizqon-bebas-keuangan.htm


Blog EntryJul 25, '10 5:36 PM
for everyone

Minggu, 25/07/2010 08:08 WIB | email | print | share

Apa kesan orang setelah melihat ka’bah? Apa pula kesan Anda yang telah melakukannya saat menunaikan umrah atau haji? Tentu jawabannya sangat ragam.

Kiki sahabat saya, memberi jawaban yang cukup unik dan mengandung hikmah yang cukup mendalam. Ia mengatakan, “Saudaraku, dunia itu kecil dan tidak ada artinya.” Maksudnya gimana? Ia melanjutkan, “ketika ketika melihat ka’bah yang tergambar adalah keagungan Allah. Allah begitu Agung. Allahu Akbar.”

Masih belum paham dengan jawaban singkatnya, saya pun bertanya apa maksudnya. Ia bertutur, “Gimana ya jika orang bertemu dengan dzat yang diagungkannya? Orang bertemu denga pujaan hatinya aja bisa histeris, gembira luar biasa, dan seperti tersedot perhatiannya, cintanya, dan emosinya hanya kepada dia. Lha ini kita bertemu “Allah”, Dzat yang kita fahami bisa mengampuni dosa kita, yang berkehendak memperluas dan mempersempit rezeki kita, yang ketika kita mendekat Dia jadi lebih dekat dengan kita, yang sanggup mematikan dan menghidupkan diri kita. Yang memiliki segala keagungan. Pantaslah kita menganggap bahwa dunia itu tidak ada apa-apanya karena semua ada pada genggaman-Nya. Ketika kita mengabdi-Nya sepenuh hati dan cinta, kita tidak bakal ditelantarkan oleh-Nya.”

Jawaban Kiki sungguh membuka kesadaran baru akan pemaknaan keagungan Allah dan tidak signifikannya nilai dunia bagi mereka yang benar mencintai-Nya.

***

Ramadhan sebentar lagi tiba. Sejauh manakah kita bisa merasakan keagungannya? Boleh jadi kita bisa menilai dan membuktikannya nanti. Tatkala kita begitu antusias mengisi hari-hari Ramadhan dengan ibadah sunnah dan amal kebaikan selain amal-amal yang wajib, ketika hati kita begitu dekat dengan Allah dibanding dengan dunia, ketika kita merasakan bahwa nilai dunia tidaklah sebanding dengan nilai akhirat, ketika kita mendapat berbagai kemudahan justru ketika kita makin mendekat kepada-Nya, boleh jadi saat itulah kita merasakan batapa agung-Nya Ramadhan.

Para sahabat dan generasi salafussaleh adalah generasi yang paling sensitif dengan aura keagungan Ramadhan. Jauh hari sebelum Ramadhan datang, terutama di bulan Rajab dan Sya’ban, mereka begitu bersiap-siap menyambutnya. Sungguh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh manusia di akhir zaman ini, yang hilang sensifitasnya akan keagungan nilai Ramadhan.

Ramadhan adalah wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Allah memberi keistimewaan pada nilai setiap detiknya, keistimewaan akan balasannya, keistimewaan berupa pintu surga khusus bagi penyambut dan pencinta-Nya (orang yang berpuasa), keistimewaan bagi malam sepuluh terakhirnya, dan keistimewaan pada satu malam (dari sepuluh malam terakhir) yang menentukan perjalanan hidup kedepan hamba-hamba-Nya.

Dengan segala keistimewaan Ramadhan dan keagungan Allah yang terpancar di dalamnya, tidakkah jiwa manusia tergerak untuk mengisi hari-hari Ramadhan HANYA dengan ketaatan dan ketundukan dan HANYA tertuju kepada-Nya?

Membandingkan apa yang dialami Kiki dan apa yang dilakukan orang beriman di bulan Ramadhan, wajarlah jika tercetus sebuah ungkapan, “Ya Allah, Engkau begitu Agung. Dunia ini tidaklah ada artinya dihadapan Engkau.”

Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Kemuliaan dan Keagungan...

Waallahua'lam (rizqon_ak@eramuslim.com)

http://www.eramuslim.com/oase-iman/muhammad-rizqon-nilai-dunia-yang-tidak-seberapa.htm

NoteBuku Tamu
   
rizhani wrote on Dec 5, '10
Assalamua'alaikum...
salam kenal bapak.....
kalau sempat silahkan kunjungi web kami di www.kerudungrizhani.com
mutiaraaisyah wrote on Apr 2, '10
subhanallah tulisannya bagus...bagus..
muhammadrizqon wrote on Jan 11, '10
Assalamu'alaikum, bahagia bisa singgah di sini, semoga akan ada banyak hikmah dan ilmu yang bisa ditanam, dipetik dan dibagi di sini, salam ukhuwah, wassalam
waalaikumussalam wr. wb. terima kasih, salam ukhuwah juga.
abisabila wrote on Jan 9, '10
Assalamu'alaikum, bahagia bisa singgah di sini, semoga akan ada banyak hikmah dan ilmu yang bisa ditanam, dipetik dan dibagi di sini, salam ukhuwah, wassalam
muhammadrizqon wrote on Dec 16, '09
aabab01 said
salam kenal..
salam kenal juga pak...
Pages:12345678